• your image alt

    Slider Title 1

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

  • your image alt

    Slider Title 2

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

  • your image alt

    Slider Title 3

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

GUSTI ALLAH TIDAK NDESO


Pada hari ini saya tampilkan tulisan dari Cak Nun, kyai mbeling yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang cerdas, tajam dan tanpa basa basi, selamat membaca. Semoga amal ibadah kita tidak sia-sia.

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah tidak "ndeso" (kampungan)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun :

"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"


Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.


"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."


Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:

Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"


Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.


Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.


Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.


Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.


Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.

Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.


Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.


Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.


Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).


Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.


Ekstrinsik Vs Intrinsik


Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.

Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.


Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.


Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.


Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.

Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh kedalam.

Baca selengkapnya »
8.31.2009 0 komentar

Anda Bisa Jika Anda Berpikir Bisa!

Seekor gajah yang diikat kakinya sejak kecil dengan seutas rantai sepanjang 4 meter, ketika dia dewasa dia tidak akan melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter walaupun rantainya sudah diganti dengan seutas benang. Ini bukan cerita, tapi kisah nyata.

Kita sebagai manusia yang berakal budi ternyata juga mengalami trauma yang sama. Teman saya sejak kecil tidak berani mengendarai sepeda, ketika kami remaja dan suka keliling kota dengan sepeda motor, dia selalu dibonceng teman lainnya, setelah kami dewasa beberapa teman mulai memakai mobil untuk aktivitasnya, tapi teman saya itu tetap tidak berani mengendarai apapun.

Ada staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, tidak pernah bisa meraih promosi jabatan karena disana adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika saya tawarkan jabatan di bagian marketing, dia tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang marketing.


Ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, prestasinya bagus, disegani teman temannya, bahkan jadi tempat bertanya atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia menolak karena dia takut dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi distrik manager yang sarat dengan tugas tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan adminitrasi.

Coba anda lihat diri anda sendiri, adakah seutas benang yang memhambat diri anda saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung anda.

Anda pasti bisa kalau anda berpikir anda bisa, anda akan gagal kalau anda selalu berpikir anda akan gagal. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan karena selama ini anda menutup mata anda, telinga anda, pikiran anda, diri anda, hidup anda, maka peluang itu menjadi bukan peluang, lewat begitu saja.

Mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau anda masih gamang, lalu berlari cepat setelah anda lebih yakin lagi. Jangan sia siakan setiap peluang untuk maju, untuk berhasil, demi diri anda sendiri

SUKSES UNTUK KITA SEMUA…!!!

Baca selengkapnya »
8.30.2009 0 komentar

Menghitung Hari

Dalam kehidupan kita ada 3 macam hari yaitu :

Hari Kemarin (PAST)

Kita tidak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.

Kita tidak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Kita tidak mungkin menghapus kesalahan; dan mengulangi kebahagiaan yang dirasakan kemarin.

Biarkan hari kemarin lewat…….


Hari Esok (FUTURE)

Hingga mentari esok hari terbit,

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk esok hari.

Kita tidak tahu apakah akan sedih atau ceria di esok hari.

Esok hari belum akan tiba……


Hari Ini (PRESENT)

Pintu masa lalu telah tertutup.

Pintu masa depan belum tiba.

Pusatkan saja semua potensi yg kita miliki untuk hari ini.

Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah utk hari ini karena masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran.

Hiduplah apa adanya karena yang ada hanyalah hari ini.

Jadi jangan biarkan masa lalu mengekang atau masa depan membuat bingung, lakukan yang terbaik utk HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!

Baca selengkapnya »
0 komentar

Selingkuh… Salahkah????


Orang yang berselingkuh itu selalu merasa salaaaah aja. Bukaaan… bukan kamu… itu mah cuma ngerasa aja…. Artinya sehebat-hebat dia menyembunyikannya, ketika berada di hadapan pasangan yang sebenarnya, selalu ada rasa risih, ada bingung, ada ..heeehh gitu.

Selingkuh itu adalah sebuah bibit, sebuah benih, dari kehancuran kehidupan rumah tangga. Alasannya macem-macem, kenapa selingkuh itu ada.
Apakah ini merupakan penyakit hati??
Ini bagian dari sekian banyak penyakit hati.
Kenapa kok jaman sekarang ini ada kesan seakan-akan selingkuh itu dihalalkan?
Halal itu lahir karena adanya pembenaran.
Dari mana pembenaran itu ada?
Dari setiap kejadian masalah-masalah pendukung dalam kehidupan rumah tangga.


Sesuatu yang dipendam, sesuatu yang ngga dibuka, sesuatu yang ngga diungkapin, Insya Allah semua orang ngerasain itu, semua orang tanpa terkecuali, akan membuat kondisi tidak nyaman.
Akhirnya ketika dia dekat dengan seseorang, “Kamu kenapa sih?”
“Ngga kok.”
“Kamu kok gitu banget, cerita doong”
Awalnya dari situ, cerita dia. “Gua pusing banget.”
“Kenapa?”
“Yang di rumah ga mau ngerti.”
Laaah… kan.. Ini merupakan bibit, yang diajak ngomong cuma mencoba ngerti. Ternyata coba ngerti itu juga bisa menjadi racun. Bukan Racunnya Cangcuter. Akhirnya menjadi kebiasaan.
“Kok ngobrol sama kamu comfort yah, kok merasa nyaman ya… kok merasa terlindungi ya. ”

Naaah ini bisa dianggap sebagai pembenaran. Karena mungkin dia tidak bisa mendapat kenyamanan dari yang seharusnya memberi kenyamanan. Ini yang sebenarnya perlu dijaga bener-bener. Sementara komitmen dari sebuah pernikahan sudah jelas, silahkan simak QS Ar Ruum ayat 21.

Dan dari tanda-tanda kebesaran Allah, Allah telah menciptakan buat kita, pasangan. Selalu berpasangan, laki-laki perempuan, perempuan laki-laki. Ngga mungkin laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan. Itu lesbiola namanya yah. Lebih baik les piano aja, atau les gitar. Oke .. kita ngga akan bahas itu.

Allah menciptakan pasangan buat kita, agar kita merasa tenteram, merasa nyaman. Seseorang klik itu kan karena ada kenyamanan, ada ketentraman, nyambung segala hal. Ketika diajak ngomong, “Telpon yang anda hubungi sedang selingkuh”. Ngga bakalan klik.

Kalau dulu waktu masih bujangan pulang sembarangan, ketika sudah beristri dia tahu, jam sepuluh musti pulang, ada yang nunggu. Selalu teratur. Ada keteraturan dari kenyamanan itu. Akhirnya dari kenyamanan itu muncul kasih dan sayang.

Tapi lagi-lagi yang namanya kehidupan rumah tangga itu ga luput dari yang namanya ujian. Dan tidak mungkin tidak ada ujian. Lalu apa bisa dikatakan kalau selingkuh merupakan akar dari suatu poligami? Oooh… poligami dan selingkuh adalah sesuatu yang jauh berbeda. Selingkuh ngga didasari pernikahan. Just having fun. Ready for use.

Tapi kan bisa mengarah ke sana, karena masing-masing saling menginginkan, saling membutuhkan? Justru itu akan lebih baik, daripada hidup dalam perselingkuhan. Karena yang namanya orang dewasa selingkuh, ga bakalan jauh dari yang namanya ML. Dan kalau itu dilakukan dengan orang yang bukan pasangan yang sebenarnya, sangat diharamkan oleh Allah.

Baca selengkapnya »
0 komentar

BERLINDUNG DARI FITNAH

Memiliki keluarga yang didalamnya penuh dengan sakinah mawadah dan penuh rahmah adalah impian setiap insan muslim. Namun, sepenuhnya kita menyadari bahwa keluarga, anak-anak juga harta-harta yang kita miliki bisa menjadi fitnah dan ujian hidup.

Oleh karenanya, seorang hamba hendaknya tidak putus permohonannya setiap waktu pada Allah untuk senantiasa menjadikan keluarga, istri, suami ataupun anak-anak cucu keturunannya sebagai qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati serta pembawa kebaikan dan manfaat.

HANYA ALLAH TEMPAT BERLINDUNG
Jika seseorang melihat berbagai macam fitnah seperti kehidupan dunia beserta iming-iming dan kesenangan di dalamnya yang berbungkus nafsu dan syahwat, fitnah ujub serta besar kepala, fitnah kematian yang siap menanti, penghimpunan seluruh manusia di Padang Mahsyar yang panas tanpa perlindungan, fitnah kekacauan, pembantaian juga perang, juga huru-hara di akhirat serta beraneka ragam fitnah lainnya, maka sesungguhnya, bagi orang-orang yang berpikir tentu akan tergerak hatinya untuk menyelamatkan diri dari semua itu dan terdorong untuk senantiasa berlindung kepada Allah l, meminta keselamatan dan terbebas dari segala keburukan dan kejahatannya.


Berlindung kepada Allah, terlebih di saat-saat ini, ketika fitnah banyak tersebar dan merajalela, merupakan cara tepat. Itu suatu keharusan dan merupakan hal yang amat penting. Karena dengan begitu kita bisa terbebas dari kejahatan fitnah-fitnah itu.

Misalnya saja fitnah kesenangan dunia beserta isinya, yang begitu memanjakan nafsu dan syahwat kita, maka kita wajib selalu berlindung kepada Allah dari keburukan dan perangkapnya. Adalah fitnah dunia yang sangat besar atas seorang laki-laki berupa fitnah wanita. Sangatlah dimengerti saat Nabi Yusuf p begitu khawatir terhadap fitnah wanita hingga beliau berdoa pada Allah seperti dalam surat Yusuf 33.
“Dan jika tidak engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka), dan tentulah aku termasuk orang-orang yang berdoa.”

Nabi Muhammad n juga memohon perlindungan dari banyaknya fitnah dunia, salah satunya adalah nabi meminta perlindungan dari buruknya fitnah kekayaan dan harta benda. “...Dan (aku berlindung) dari buruknya fitnah kekayaan.” (Riwayat Bukhari)
Jika para nabi dan utusan Allah yang tak diragukan lagi kuatnya keimanan mereka, selalu memohon perlindungan pada Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Semoga kita tak pernah kikir dan pelit untuk senantiasa memohon perlindungan-Nya.

FITNAH DALAM KELUARGA
Telah disinggung di awal tulisan bahwa keluarga dan anak-anak juga merupakan fitnah dunia sebagaimana firman Allah l dalam firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)

Benarlah apa yang Allah sitir dalam firman-Nya tersebut, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui istri, atau suami dan anak-anak menjadi ujian. Banyak kita dengar istri-istri yang tidak taat juga anak durhaka, ataupun harta yang menjadi sengketa dan malapetaka.

FITNAH ISTRI
Bukan lagi hal aneh dewasa ini kita saksikan istri yang tidak taat dan istri-istri yang keluar rumah sendirian tanpa izin suami, tanpa ada kepentingan yang mendesak, hingga menimbulkan pandangan orang-orang.
“Wanita itu adalah aurat, maka apabila dia keluar, dia akan diincar (diperindah) oleh setan.” (Riwayat At-Tirmidzi)
“Tidak boleh seorang wanita bepergian kecuali bersama dengan mahramnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Istri keluar tanpa izin suami merupakan langkah awal dari rentetan fitnah selanjutnya. Biasanya istri akan mulai menyepelekan hal-hal penting lain yang menyangkut dengannya. Misalnya menjadi tidak perhatian pada anak-anak, tidak lagi perhatian dengan tugasnya dalam rumah tangga, juga tidak perhatian terhadap hak-hak suami. Bahkan bisa jadi rentetan ketidaktaatannya kepada suami akan semakin panjang, berani menolak suami dengan kasar, mengangkat suara (berteriak) di hadapan suami serta mengingkari kebaikan suami.

Tidakkah istri-istri yang berbuat demikian ingat bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban?
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, suami adalah pemimpin pada keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sikap boros dan israf (berlebihan) istri dalam menjaga dan membelanjakan harta suami juga merupakan ujian, dan masih banyak ujian lain yang ditimbulkan oleh seorang istri.

FITNAH ANAK
Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah. Namun adakalanya amanah itu justru menjadi cobaan bagi sebagian orang. Seperti yang dialami Nabi Nuh, buah hatinya durhaka dan tak pernah mendengar nasihatnya. Dan kisah Nabi Nuh banyak terulang di zaman ini. Dari anak yang melawan orang tua, membangkang bahkan membunuh orangtuanya sendiri karena keinginannya tidak dipenuhi. Ironisnya pergaulan dan lingkungan yang carut marut makin “menggemukkan” fitnah ini.

Banyak dari orangtua merasakan ujian hidup atas anak mereka. Mereka berusaha sabar atas keburukan sikap anak-anak, seraya berharap perubahan, namun kadang kenyataan berkata lain. Terkadang justru kedurhakaan anak kian menjadi. Mereka disibukkan dengan kesenangan dunia dan foya-foya melakukan hal sia-sia, hingga lupa diri. Dunia telah menipunya.
“Dan dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Karenanya nabi mengajarkan sebuah doa agar terhindar dari fitnah dan ujian hidup.
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari (keburukan) fitnah hidup.”

FITNAH HARTA
Tak ubahnya fitnah istri dan anak, harta pun bisa menghancurkan jika tidak diiringi sikap amanah pemiliknya. Harta kekayaan yang seharusnya bisa mendatangkan kebaikan malah sebaliknya. Membuat pemiliknya menjadi tamak, loba dan kikir. Pelit dalam menyedekahkan karena takut berkurang.

Tapi anehnya sangat boros dan royal jika membelanjakan untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Semisal untuk hura-hura dan berlebihan dalam soal makan dan gaya hidup. Harta juga bisa menjadi sengketa antar ahli waris karena saling ingin menguasai. Maka bisa dipastikan hubungan antar anggota keluarga akan hancur, kedengkian dan permusuhan tumbuh, bahkan bisa jadi pertumpahan darah.

FITNAH TETANGGA
Sebagai makhluk sosial, di tempat keluarga kita tinggal tentunya kita hidup bertetangga. Namun ada saatnya kita temukan tetangga yang belum tentu baik perilakunya. Meski kita tak memusuhinya, kadang ada saja sikap mereka yang tak menyenangkan. Semisal senang menggunjing, mengadu domba dan mencampuri urusan orang lain. Kondisi yang tidak kondusif ini, juga bisa memberikan rasa tak nyaman. Bisa pula kita terpengaruh dengan perilakunya, karenanya sebisa mungkin kita harus menjaga jarak dengan mereka.

Pada akhirnya, mengingat banyak fitnah yang bisa saja terjadi dalam keluarga kita, tak hanya melulu tugas suami untuk menjaga dan menasihati anak, tapi menjaga keluarga dari setiap keburukan adalah tugas kita semua, dengan jalan saling menasihati dan mengingatkan. Semoga firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 6 (“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”) bisa menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjaga keluarga kita, serta semoga Allah menjaga kita dari kejahatan fitnah besar dan kecil, baik saat hidup dan sesudah kita mati. Amiin.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Meraih Pahala dari Fitnah Harta (istri) dan Anak

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbedaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”. Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.


Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”. Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.

Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.

Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak. Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.

Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).

Baca selengkapnya »
0 komentar

Rahasia Hati Laki2 dan Wanita..


Sejarah banyak menceritakan kita tentang hal ini..ada Yusuf dan zulaikha, Muhammad dan Khadijah, Ali dan Fatimah, Laila dan Majnun, Romeo dan Juliet, Rama dan Sinta dll..yang jumlahnya banyak sekali..

Apa yang sama jika disebutkan nama2 ini berikut pasangannya??..betul sekali..tentang menyikapi 'hubungan' laki2 dan perempuan..tentang 'cinta'..tentang anugrah yang hanya terlengkapi jika ia berpasangan..meskipun diantara tokoh2 diatas, penyikapan yang ditunjukkan mungkin sangat berbeda..
tetapi banyak manusia2 dahulu dan saat ini terilhami oleh cerita2 diatas..dengan bermimpi bahwa mereka adalah pasangan2 diatas..berharap ada banyak kesamaan sikap dengan cerita2 diatas..dengan segala permasalahan yang terjadi didalam 'hubungan' mereka tersebut..


Jaman dahulu..jaman sebelum Islam menerangi tanah arab, ada kebiasaan diantara wanita2 arab yang ingin bersuami,dimana dia(si perempuan)'berhubungan' dengan sebanyak lelaki yang ia inginkan(dibawah 10 org).. ketika si perempuan hamil..dia berhak memilih salah satu diantara lelaki yang telah berhubungan dengannya itu untuk menjadi suaminya..ada lagi kondisi dimana si perempuan memasang bendera(tanda) tertentu didepan rumahnya..yang berarti lelaki manapun boleh 'berhubungan' dengan si perempuan tadi, setelah perempuan itu hamil maka perempuan itu akan menikahi seorang lelaki dimana sebelumnya pihak perempuan memanggil tukang ramal untuk meramal anak siapakah yang ada didalam kandung si perempuan itu..jawaban peramal ini mau tidak mau harus dilaksanakan dan diterima..ditambah lagi dengan bentuk 'hubungan' yang seperti kita kenal saat ini, yakni berkenalan, kirim dan berbalas surat, jalan2 ke tempat2 yang ramai dan sepi, bermesraan(baca: zina mata, tangan, kaki, mulut dll), kemudian menikah..dan tidak sedikit yang didahului dengan perzinahan sebenarnya, kemudian baru menikah..dan jenis 'hubungan' terakhir adalah..dimana seorang lelaki yang ingin menikahi seorang wanita mendatangi wali si wanita tersebut untuk meminta izin menikahi wanita yg dimaksud..dan setelah dipenuhi mahar yang telah ditentukan, dilaksanakanlah pernikahan dengan syarat dan rukun tertentu..bentuk 'hubungan' inilah yang kemudian dibenarkan oleh Islam..

Sekarang ini, 2 model terakhir dari 'hubungan' antara laki2 dan perempuan diatas yang berkembang didunia, sayang.. pilihan kebanyakan kita umat Islam bukan pada pilihan yang terakhir(mendatangi wali perempuan untuk melamar)..tetapi pilihan untuk pacaran...

Baca selengkapnya »
8.28.2009 0 komentar

Pembelajaran Bahasa Inggris di Bangku Sekolah: Apakah Efektif?

Agaknya, tidak berlebihan bila Bahasa Inggris memang amat sangat dibutuhkan dalam abad kontemporer ini. Setiap zaman diatur oleh sebuah sistem episteme tertentu, begitulah kira-kira kalau tidak salah kata Michel Foucault, sang filosof pujaan saya. Pada zaman ibu saya masih single dulu, Bahasa Inggris masih menjadi satu barang antik. Belum bergeser kedudukannya menjadi ibarat sembako bila diibaratkan dengan keadaan sekarang. Tetapi, itu dulu. Sistem masyarakat, seperti budaya, sosial, ekonomi bukan sesuatu yang statis. Pergerakannya memunculkan kebutuhan baru sekaligus perubahan pada sendi-sendi sistem tersebut membentuk pembaruan maupun kritik terhadap sistem lama. Dobrakan globalisasi kini meraja. Penguasaan Bahasa Inggris jadi salah satu kebutuhan primer.

Sayangnya, kebutuhan akan Bahasa Inggris yang amat sangat mendesak ini tidaklah dibarengi dengan sarana dan prasarana yang cukup, khususnya bila kita menilik pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah. Banyaknya jam pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah (yang nyatanya, memang tidak banyak karena harus berbagi proprosi dengan mata pelajaran lainnya) tidaklah memadai untuk mencukupi kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris yang diharapkan. Meskipun pada beberapa sekolah pemberian pelajaran Bahasa Inggris telah diberikan semenjak jenjang TK, perlu dilihat pula apakah sistem pengajarannya bisa mengakomodasi kemampuan anak didiknya. Sebab anak kecil masih membutuhkan banyak waktu bermain dan bersenang-ria dengan sebayanya, jangan sampai materi yang berat merusak kegembiraan masa kecilnya yang kaya akan imajinasi.


Coba bayangkan, kita yang lahir di negara Indonesia tentu dapat menguasai bahasa Indonesia dengan sendirinya, begitu pula dengan saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Mengapa demikian? Kita bisa karena terbiasa. Kita lihai karena setiap hari kita bertemu dengan bahasa itu dan menggunakannya secara aktif dalam komunikasi antarindividu. Pengalaman empiris membentuk kemampuan berbahasa—disamping perubahan volume otak manusia yang diusung teori evolusioner dalam menyediakan wadah untuk mencerap, membentuk, dan memaknai bahasa. Bahasa bukanlah sesuatu yang sudah terprogram dalam diri individu seperti chip komputer yang sudah ditanam dalam tubuh individu. Tetapi, didapat melalui media sosialisasi.

Penguasaan Bahasa Inggris akan sangat baik bila dibarengi dengan penggunaan aktif, seperti pepatah ‘bisa karena terbiasa’ tadi. Cara belajarnya pun sebisa mungkin dibuat semenarik mungkin sehingga para siswa tidak jadi bosan yang ujung-ujungnya membuat mereka bertambah malas.

Beberapa tips yang dapat saya berikan untuk belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan antara lain:

1. Bergabunglah dalam English Club. Di sini, kamu bisa belajar vocabulary lewat permainan Scrabble, menyampaikan ide mereka lewat debate contest, dan melatih penguasaan grammar lewat writing. Terlebih, mereka juga dapat memperluas lingkaran pertemanan yang ada.

2. Baca, Baca, Baca! Membaca di sini bukan berarti membaca buku pelajaran melulu. Tetapi, bisa membaca buku dongeng, novel pop remaja, atau novel sastra klasik dalam Bahasa Inggris. Membaca suatu karya fiksi akan sangat menyenangkan karena dengan sendirinya, kamu akan hanyut dalam alur ceritanya yang menarik.

3. Nonton dan Dengarkan Musik. Coba iseng-iseng kamu nonton DVD dengan tidak menggunakan teks (subtitle) apapun. Belajarlah untuk menangkap ide ceritanya lewat dialog para tokoh-tokohnya. Selain itu, kamu juga bisa belajar banyak dengan menerjemahkan atau mendengarkan dengan seksama lirik lagu favorit kamu.

4. Layangkanlah Sayapmu! Tentu saja bukan maksud saya untuk menyuruh terbang. Tetapi, cobalah untuk memperluas jaringan persahabatan dengan teman-teman di luar negeri. Misalnya, lewat friendster. Kamu bisa berlatih Bahasa Inggris dengan sendirinya saat berkirim-kiriman email atau message sembari cari teman atau jodoh baru.

Kuncinya adalah satu: practice makes perfect. Kita bisa karena terbiasa. Bila kita hanya diam saja dan berpangku tangan, kapan kita mau bisa? Ah…saya jadi tersindir sendiri saat menulis ini. Soalnya, sudah sejak lama saya mengidam-idamkan perut berkotak enam, alias sixpack. Tetapi berhubung saya malas melatihnya, maka saya hanya mengharapkan mukjizat supaya keinginan saya terkabul. Dan alhasil, kini perut saya one-pack, alias menggembung ke depan.

Baca selengkapnya »
8.27.2009 0 komentar

Mana yang Lebih Dahulu, Menilai Atau Memikirkan,??

Duh, kayaknya ini emang pertanyaan bodoh! Dimana-mana yah berpikir dulu..setelah itu baru dech kita memutuskan ato menilai something.. ya gak,?? Tapi baru-baru ini aku mendapat pengalaman baru, yang mungkin mengingkari semua itu..Dan tentunya itu membuat aku kecewa dan sedih.

Sungguh manusia itu aneh.. aneh banget.. Jangankan nilai yang mereka buat sendiri. Something yang telah ditetapkan Tuhan pun mereka langgar dengan dalih bermacam-macam. Lidah emang tak bertulang.. Aku ambil contoh seperti ini, Tuhan telah berfirman bahwasanya minuman yang memabukkan itu diharamkan. Harusnya mereka patuh..Tapi apa,?? Mereka mulai dech berargument, “Kalo gak sampai mabuk kan berarti gak haram..” Nauzubillahiminzalik.nilai yang telah dijatuhkan Tuhanpun berani mereka ingkari..Apalagi nilai yang dibuat manusia itu sendiri.


Kembali ke pokok permasalahan, mana yang terlebih dulu kita lakukan menilaikah,?? Atau memikirkan,?? Aku yakin semua akan menjawab, “ya berpikir dululah baru kita jatuhkan nilai..!” Pertanyaannya, tapi kok masih ada yah orang yang menilai kemudian baru berpikir tentang penilaiannya itu..??

Oooh sungguh, beribu kali pun orang menjelaskan padaku alasannya tetap takkan membuatku puas. Karena bagiku, telah jelas ada hitam diatas putih. Kenapa harus diingkari,?? Tapi sekali lagi kukatakan, itulah manusia. “”MANUSIA.”

Baca selengkapnya »
8.26.2009 0 komentar

Always Positive Thinking ...

SALAH satu sifat baik itu adalah prasangka baik. Atau lebih kerennya disebut positif thinking,, Think-think,,!!!

Selalu berprasangka baik itu gak ada salahnya. Bahkan berdampak sangat baik bagi mental kita. Coba bayangkan kalo kita selalu berprasangka buruk.. apa-apa pasti curigaan. Takut inilah. Takut itulah. Pokoknya macam-macam. Ujung-ujungnya kan akan bikin kita stres n repot sendiri.. ya nggakk?? Dalam agamapun su’uzon ntu gak baik.. Dosa…


Nah, coba dech kita slalu berpositif thinking.. Duuhhh indah banget rasanya hidup ini.. Bahkan bisa jadi yang berniat mau maling gak jadi maling… yang mau bolos bisa jadi gak jadi bolos.. Why? Karena, Tuhan itu bertindak sesuai prasangka kita. Kalo kita slalu berprasangka baik pada-Nya, niscaya akan baik pula yang kita dapat. Tapi kalo kita ber-su’uzon padanya, maka yang buruklah yang kita dapat..

Percaya dan berprasangka baik kepada orang lain itu memang gak mudah. Dan gak semua orang yang kita prasangkai baik itu benar-benar baik. Lantas, harus gimana donk??

Kita tetap kudu berprasangka baik. Apapun yang terjadi jangan su’uzon. Biarkan Tuhan yang menentukan jalannya.. Tapi waspada itu gak papa n gak dilarang loh…

So, selagi kita mampu untuk tak su’uzon, maka positif thinkinglah..!!! Dengan begitu niscaya, kita gak akan pernah sakit hati. Karena kita yakin bahwa semua berjalan sesuai kemauannya..

Baca selengkapnya »
0 komentar

HIKMAH PUASA DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"

(QS. Ali Imran : 191)


Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"

(QS. Al Baqarah : 183)

Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :

a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)

Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.

Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Berpuasalah maka kamu akan sehat"

(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)

Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"

(HR. Ibnu Majah)

Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :

1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.

2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.

3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.

4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.

b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat

Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.

Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :

"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).

Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"

(HR. Ibnu Majah)

Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.

(HR. Bukhari)

Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :

Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :

"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"

(HR. Bukhari)

Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.

Baca selengkapnya »
8.25.2009 0 komentar

Renungan : Puasa Ala ULAT apa ULAR

Allah Yang Maha Sempurna menciptakan segala sesuatunya penuh dengan hikmah dan pelajaran. begitu pula pada dua makhluk ciptaan Nya, yakni Ulat dan Ular.

Belum lama kita lepas dari madrasah ramadhan. selama berada dimadrasah ramadhan ini kita wajib berpuasa. tentunya berpuasa dengan sebenar-benarnya. agar nantinya kita menjadi seorang yang bertaqwa.

Saudaraku, ternyata fenomena puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Makhluk Allah yang lain juga ada yang berpuasa. mari kita perhatikan ular. pada periode tertentu ia pun berpuasa. Begitu pula ulat, ia berpuasa.


Puasa ular dan ulat ternyata berbeda. Ular berpuasa menjelang ia berganti kulit (mbrungsungi-jawa). Jika periodenya telah sampai, ular akan mencari mangsa. ia makan mangsa-mangsa tersebut sampai cukup. cukup dalam ukuran yang Allah ajarkan kepada si Ular ini. kemudian ia mencari lokasi tertentu untuk berpuasa. berlalu sekian waktu, kemudian kita dapati ular mempunyai "baju" yang baru. ia telah berganti kulit dengan yang kulit yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya.

Kemudian puasanya ulat. ulat dalam fase awal hidupnya masih berbentuk larva. ia mempunyai sifat rakus dan gemar makan. tidak heran bapak tani dan pecinta tanaman sangat waspada kalo-kalo ada larva yang mampir ke tanamannya. periode awalnya ini ia akan terus makan. sampai pada periode tertentu ia berpuasa. kita akan perhatikan ia seakan ular ini bertapa. semisal kita perhatikan lebih detil, ular menjadikan tubuhnya menjadi lebih keras. dan hanya nampak dari luar, sesuatu yang bergerak-gerak bila kita pegang. waktu kemudian berlalu, sang pertapa ini berubah dan mempunyai wujud yang baru. ia telah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. tidak lagi ia memakan daun secara rakus. sekarang ia memakan makanan yang baik. ia memakan sari bunga yang manis.

Demikianlah Allah jadikan perumpamaan bagi kita. mari kita bertanya, selama ramadhan kemarin kita berpuasa bak ular ataukah ulat?

Puasanya ular hanya berganti baju saja. lidahnya yang dulu bercabang, pasca berpuasa tetap saja masih bercabang. sifatnya yang liar, tetap saja ia liar. dengan kata lain, lidah kita yang sering maksiat tetap saja maksiat. lidah kita yang hobi ghibah dan fitnah, masih saja demikian. kita sekedar memakai baju baru saja selepas ramadhan ini. naudzubillahi mindzalik.

Ataukah puasa kita seperti puasanya ulat? ia semakin baik. ia bermetamorfosis dari keadaan diri yang berbentuk ulat yang menggelikan menjadi kupu-kupu indah. makananannya pun berbeda, ia memilih makanan yang baik. ibarat manusia, sebelum berpuasa ia jauh dari Allah, ibadah masih bolong-bolong, mau berpuasa sunnah terasa berat, berinfaq terasa sulit, apalagi berjalan ke majelis-majelis ilmu. selepas ramadhan ini mari kita merenung. akankah diri kita sudah semakin baik? kita sudah bukan lagi larva namun sudah menjadi kupu-kupu yang indah nan barokah?

Salah seorang ulama mengatakan "bukanlah orang yang ‘Id orang yang berpakaian baru. tetapi orang yang ‘Id adalah orang yang ketaatannya bertambah". Kiranya renungan ini bisa bermanfaat bagi kita bersama. Jagalah terus ramadhan di hati kita. manfaatkan terus waktu-waktu yang masih Allah karuniakan kepada kita sebesar-besarnya untuk berbuat taat kepadaNya. Sehingga dibulan kemenangan ini kita tetap terus menang. karena pada hakikatnya menurut Imam Ibn Jauzi mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit dibandingkan upaya keras kita untuk mencapainya. Wallahu a’lam.

Baca selengkapnya »
8.24.2009 0 komentar

Renungan Puasa

Sebagaimana ibadah yang lain, seperti shalat, puasa juga memiliki sisi batin yang hanya sedikit orang yang mampu menembusnya. Pada shalat, orang yang betul-betul merasakan khusyuk pada akhirnya bisa mencapai mikraj, bertemu dengan Tuhan. Pada titik itulah, shalat tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban rutin lahiriah yang berat dan menjemukan.

Dalam puasa, hanya sedikit orang-orang yang bisa melewati tahapan lahiriah: tidak makan, minum, dan berhubungan seksual. Puasa betul-betul menjadi sesuatu yang membuat seseorang bisa melayang-layang dengan ringannya laksana kapas. Ia tidak lagi terbelenggu oleh jerat lahiriah: lapar, haus, lemas. Ia telah menembus lapisan lahiriah dari puasa. Ia memasuki dimensi batiniah yang justru membebaskannya. Ia dengan merdeka beraktifitas tanpa direcoki oleh keinginan lahiriah seperti makan, minum, nafsu seksual, dan lain-lain.


Memang tidak mudah bagi seorang yang berpuasa untuk bisa lepas dari jerat lahiriahnya. Lagi-lagi, ia mungkin hanya tersiksa oleh lapar, haus, dan lemas. Ia tidak mampu menukik lebih dalam dengan jiwanya sehingga puasa dirasakan sebagai sesuatu kenikmatan spiritual yang tiada tara.

Namun, Allah juga Maha Tahu dengan para hamba-Nya. Ketika sebagian besar hamba-Nya hanya berhenti pada tahapan lahiriah dalam beribadah, termasuk puasa, maka ibadah mereka pun tetap diterima-Nya. Ibadah mereka mempunyai makna dan memperoleh pahala di sisi-Nya. Paling tidak, dengan lapar dan dahaga seseorang bisa merasakan betapa susahnya orang-orang papa yang sedang kesulitan rezeki. Dengan lapar dan dahaga, ia diharapkan merasakan arti solidaritas sosial.

Kita seharusnya terus menuju ke arah ibadah yang lebih baik, tidak hanya berhenti pada tahapan-tahapan lahiriah. Hal itu karena tahapan-tahapan lahiriah sering kali justru dirasakan berat dan menjemukan. Apalagi jika tidak disertai oleh keikhlasan dan keimanan kepada Tuhan, yang telah memerintahkan ibadah tersebut.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Hari Pertama Yang Berat

Halo, bagaimana rasanya hari pertama puasa? Berat rasanya bukan? Ya, itu tandanya tubuh kita melakukan adaptasi terhadap apa yang kita lakukan. Ya, memang tubuh kita selalu berusaha beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Adaptasi dilakukan oleh tubuh kita untuk menyesuaikan dengan keadaan yang dihadapi sehingga tubuh akan tahan terhadap perubahan. Jika anda merasa di pagi hari terasa lemas, lapar, haus dan sebagainya, itu adalah wajar. Nanti, setelah tubuh anda melakukan adaptasi, maka segala perasaan itu akan lenyap dengan sendirinya. Adaptasi yang dilakukan oleh tubuh sangat cepat, sehingga sebenarnya dalam beberapa jam anda tidak lagi merasa lemah ketika anda berpuasa. Anda akan merasa bahwa keadaan fisik anda tidak berubah seperti hari-hari sebelum puasa.


Kondisi yang kurang mengenakkan itu akan lebih cepat menghilang jika kita berniat dengan sungguh-sungguh bahwa kita akan berpuasa sesuai dengan perintah Allah dan Rasul. Niat yang sungguh-sungguh, motivasi yang kuat ini akan membantu tubuh anda dalam mempercepat adaptasi tersebut. Jika niat anda lemah, maka adaptasi tubuh akan lambat atau bahkan gagal sama sekali.

Kalau begitu, sesungguhnya puasa itu tidaklah menjadi sebab menurunnya kinerja anda ketika anda berpuasa. Kalau begitu, kita tidak layak menjadikan puasa sebagai alasan turunnya kinerja kita. Bahkan, seharusnya ketika anda berpuasa kinerja anda meningkat. Tentunya jika anda termotivasi oleh pahala yang begitu besar yang akan diberikan kepada siapa saja yang menjalankan puasa karena Allah. Segala amal perbuatan yang baik yang dilandasi oleh iman akan dilipatgandakan. Jadi, kalau kita malas-malasan ketika berpuasa berarti kita kurang memahami untuk apa kita berpuasa.

Ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan puasa. Ketika anda berbuka hendaknya jangan berlebih-lebihan. Ingat, saluran pencernaan kita selama kita berpuasa sedikit mencerna makanan, maka ketika kita makan berlebihan ketika berbuka akan membuat saluran pencernaan terkejut. Hal ini akan mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan kita. Sebaiknya, ketika berbuka kita makan sesuai dengan kebutuhan secara bertahap. Pertama, kita makan makanan yang mengandung energi tinggi seperti kurma, gula dan makanan berenergi tinggi lainnya. Kemudian, kita selingi dengan sholat. Setelah sholat, anda dapat makan sesuai dengan kebutuhan gizi anda. Tidak berlebih-lebihan. Selama berbuka lebih baik anda minum banyak untuk mengganti cairan yang hilang selama berpuasa. Juga ketika anda sahur, minumlah secukupnya sesuai dengan kebutuhan kita. Cara ini akan menghindarkan kita dari dehidrasi selama puasa dan menghindarkan kita dari sakit ginjal. Dengan makan secara bertahap, usus tidak akan terkejut dari kurang aktif menjadi sangat aktif. Usus dengan demikian akan bekerja tingkat keaktifannya secara bertahap pula. Hal ini akan menyebabkan kesehatan saluran pencernaan optimal

Baca selengkapnya »
8.22.2009 0 komentar

Nikmatnya Berpuasa

Berpuasa bisa dibilang keunikan yang tiada tara dalam berkehidupan. Satu ritual yang mendekatkan diri kita sebagai makhluk kepada Sang Pencipta. Atau satu langkah bagi kita dalam berproses di kehidupan yang nyata. Sama seperti doa, puasa adalah upaya kita memohon ampunan dan dibersihkan dari lumuran dosa yang telah diperbuat. Sehingga, apabila puasa kita diterima, Tuhan tidak segan-segan memberikan ampunan dan hidayahnya kepada kita yang telah menjalankan puasa sesuai dengan waktunya.

Puasa Ramadhan adalah perintah yang wajib dijalankan oleh umat Islam dan digariskan dalam perintah Allah melalui Al Qur’an. Puasa senin kamis adalah sela diantara kewajiban, boleh dijalankan atau tidak. Puasa-puasa yang lainnya juga demikian. Puasa 40 hari secara tradisi oleh sebagai masyarakat kita dijalankan untuk mengolah diri menjadi makhluk yang lebih baik dari yang lainnya. Juga puasa mutih –puasa yang hanya makan nasi putih dan minum air putih.


Apapun caranya, berpuasa lebih berpotensi untuk menjadi katalisator dalam mengeremnafsu diri. Kita disarankan untuk tidak mengembangkan nafsu makan yang besar, karena lebih berat bahayanya bagi kesehatan tubuh. Begitu juga dengan nafsu mata, telinga, hati dan yang lainnya. Penurunan tensi keinginan dari yang sehari-hari kita jalankan menjadikan kita lebih baik dapat melihat kondisi semuanya dari awal. Bacaannya dalam kondisi ini adalah segala sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Keinginan yang terlalu over, akan berdampak buruk bagi sirkulasi aura diri kita sendiri. Keinginan-keinginan yang tidak jelas akan membuat diri kita terpuruk, karena beban yang dipanggulnya ternyata lebih besar harapan daripada kenyataan.

Dampak dari pengereman diri ini akan membuat diri kita menjadi lebih terkontrol. Setiap langkah akan lebih bermanfaat, karena kalkulasi dari langkah-langkah tersebut akan membawa diri kita ke arah yang lebih benar. Benar dalam pengertian, setiap keputusan yang diambil berdasar kalkulasi yang sudah matang dan terencana. Tidak ada keragu-raguan maupun kecerobohan. Tidak ada yang diluarperkiraan ataupun yang kurang dari perkiraan. Semuanya sesuai dengan estimasi yang sempurna.

Berpuasa memang dapat menjadi penenang. Namun menempuh proses berpuasa itu kerap menjadi batu sandungan tersendiri bagi manusia yang menjalankan. Kenapa? Karena berpuasa dianggap berada diluar pakem cara kita berhidup. Wong kita ingin menjalankan kehidupan yang sesungguhnya kok mesti direm? Kapan kita menikmati hidup?

Penilaian-penilaian seperti itu seringkali muncul dari mereka yang merasa keberatan dengan cara berpuasa ini. Berpuasa lebih dinilai sebagai sesuatu yang memberatkan diri. Jangankan memandang puasa yang wajib dilakukan sebulan penuh, puasa selama sehari atau dua hari dalam sepekan pun masih dianggap berat. Kenapa? Karena kehidupan telah menaikan derajat setiap makhluk ke singgasananya masing-masing. Terlalu tinggi dan enak untuk dinikmati. Setiap saat kita bisa makan dan minum sepuasnya. Setiap saat, mata dan telinga dapat dipakai sepuasnya. Setiap saat, nafsu diri dapat diatur semaunya. Setiap saat semuanya bisa kita atur dan nikmati. Kalau sudah indah begini, siapa yang mau menghentikannya.

Bila puasa tidak dipandang sebagai acuan untuk beragama, belum tentu semua umat akan mematuhinya. Namun, indahnya, puasa dijadikan sya’riat untuk menjalankan ibadah. Bila demikian tentu ada maksudnya bukan? Nah, itulah yang mesti kita cari dalam menjalan puasa kali ini. Puasa sebulan tidak lebih berat dibandingkan kaum pinggiran yang tinggaldi bawah jembatan dan harus makan sekali dalam sehari atau bahkan tidak sama sekali. Berpuasa yang wajib tidak lebih berat dibandingkan mereka yang harus kehilangan rumah dan harta bendanya akibat musibah gempa atau tsunami. Berpuasa akan menjadi lebih ringan bila melakukannya dengan ikhlas, sama seperti kita ikhlas bersedekah, tersenyum, tertawa, atau menyapa orang lain. Indahnya berpuasa.

Baca selengkapnya »
0 komentar