• your image alt

    Slider Title 1

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

  • your image alt

    Slider Title 2

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

  • your image alt

    Slider Title 3

    Place Your Description here.... At vero eos et accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas...

Makan Sahur Dalam Syariat Islam

Salah satu pembeda antara syariat puasa antara umat Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur. Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh umat Islam untuk makan sahur dalam melaksanakan puasa baik di bulan Romadhon maupun di hari-hari lainnya di luar bulan Romadhon.

Dari Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur” (HR: Muslim 1096)

Keutamaan Makan Sahur

Makan Sahur Adalah Barokah.

Keberadaan sahur sebagai barakah sangatlah jelas, karena dengan makan sahur berarti mengikuti sunnah, menguatkan dalam puasa, menambah semangat untuk menambah puasa karena merasa ringan orang yang puasa.


Dari Salman Radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Barokah itu ada pada tiga perkara : Al-Jama’ah, Ats-Tsarid dan makan Sahur” (HR: Thabrani)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah menjadikan barokah pada makan sahur dan takaran” (HR: As-Syirazy [Al-Alqzb])

Dari Abdullah bin Al-Harits dari seorang sahabat Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Aku masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang makan sahur, beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya makan sahur adalah barakah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian tinggalkan’” (HR: Nasa’i 4/145 dan Ahmad 5/270 sanadnya SHAHIH)

Dalam makan sahur juga (berarti) menyelisihi Ahlul Kitab, karena mereka tidak melakukan makan sahur. Oleh karena itu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya dengan makan pagi yang diberkahi sebagaimana dalam dua hadits Al-Irbath bin Syariyah dan Abu Darda ‘Radhiyallahu ‘anhuma, yang artinya “Marilah menuju makan pagi yang diberkahi, yakni sahur” (HR: Ahmad 4/126 dan Abu Daud 2/303, Nasa’i 4/145)

Allah dan Malaikat-Nya Bershalawat Kepada Orang-Orang yang Sahur.

Mungkin barakah sahur yang tersebar adalah (karena) Alloh Subhanahu wa Ta’ala akan meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat Alloh memintakan ampunan bagi mereka, berdo’a kepada Allah agar mema’afkan mereka agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sahur itu makanan yang barakah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya meneguk setengah air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur”

Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya tidak menyia-nyiakan pahala yang besar ini dari Rabb Yang Maha Pengasih. Dan sahurnya seorang muslim yang paling afdhal adalah korma.Bersabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. yang artinya: “Sebaik-baik sahurnya seorang mukmin adalah korma” (HR: Abu Daud 2/303, Ibnu Hibban 223, Baihaqi 4/237)

Barangsiapa yang tidak menemukan korma, hendaknya bersungguh-sungguh untuk bersahur walau hanya dengan meneguk satu teguk air, karena keutamaan yang disebutkan tadi, dan karena sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Makan sahurlah kalian walau dengan seteguk air”

Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan mengakhirkan sahur sesaat sebelum fajar, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu melakukan sahur, ketika selesai makan sahur Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk shalat subuh, dan jarak (selang waktu) antara sahur dan masuknya shalat kira-kira lamanya seseorang membaca lima puluh ayat di Kitabullah. (Jadi bukan sebagaimana ketentuan yang diberlakukan di Indonesia yaitu adanya waktu Imsak dengan jangka waktu tertentu, umumnya 10 menit sebelum sholat Subuh, hal ini bukanlah ajaran dan syariat Islam, melainkan sebuah perkara baru yang akan menyebabkan semakin terbukanya bagi umat Islam yang mengamalkannya untuk terjerumus dalam jurang kehinaan akibat mengada-ngadakan suatu perkara Ibadah)

Anas Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, yang artinya: “Kami makan sahur bersama Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau shalat” Aku tanyakan (kata Anas), “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “kira-kira 50 ayat membaca Al-Qur’an” (HR: Bukhari 4/118, Muslim 1097)

Ketahuilah wahai hamba Alloh -mudah-mudahan Alloh membimbing kita- kita diperbolehkan makan, minum, jima’ selama (dalam keadaan) ragu fajar telah terbit atau belum, dan Alloh serta Rasul-Nya telah menerangkan batasan-batasannya sehingga menjadi jelas, karena Allah Jalla Sya’nuhu mema’afkan kesalahan, kelupaan serta membolehkan makan, minum dan jima, selama belum ada kejelasan, sedangkan orang yang masih ragu (dan) belum mendapat penjelasan. Sesunguhnya kejelasan adalah satu keyakinan yang tidak ada keraguan lagi.

Hukumnya

Oleh karena itu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya – dengan perintah yang sangat ditekankan-. Beliau bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mau berpuasa hendaklah sahur dengan sesuatu” (Ibnu Abi Syaibah 3/8, Ahmad 3/367, Abu Ya’la 3/438, Al-Bazzar 1/465 dari jalan Syuraik dari Abdullah bin Muhammad bin Uqail dari Jabir.)

Dan beliau bersabda, yang artinya: “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur ada barakah” (HR: Bukhari 4/120, Muslim 1095 dari Anas)

Kemudian beliau menjelaskan tingginya nilai sahur bagi umatnya, beliau bersabda, yang artinya: “Pembeda antara puasa kami dan Ahlul Kitab adalah makan sahur”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang meninggalkannya, beliau bersabda., yang artinya: “Sahur adalah makanan yang barakah, janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya meminum seteguk air karena Allah dan Malaikat-Nya memberi sahalawat kepada orang-orang yang sahur” (HR: Ibnu Abi Syaibah 2/8, Ahmad 3/12, 3/44 dari tiga jalan dari Abu Said Al-Khudri)

Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sahurlah kalian walaupun dengan seteguk air” (HR: Abu Ya’la 3340 dari Anas, ada kelemahan, didukung oleh hadits Abdullah bin Amr di Ibnu Hibban no.884 padanya ada ‘an-anah Qatadah. Hadits Hasan)

Wallahu ‘alam.

(Sumber Rujukan: Sifati Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid)

Baca selengkapnya »
9.03.2009 0 komentar

Manfaat Sholat Tarawih

Shalat Tarawih merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan pada bulan Ramadan. Setiap kali masanya tiba, berduyun-duyun masjid menjadi penuh selepas waktu Isya. Namun apa sebetulnya manfaat dan janji Allah yang dimaktubkan dalam Shalat Tarawih?

Sebuah hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, bahwa suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada :

Malam ke-1:
Terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.

Malam ke-2:
Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)

Malam ke-3:
Malaikat berseru dari bawah Arsy ; mulailah beramal semoga allah swt mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu.


Malam ke-4:
Mendapatkan pahala sama dengan pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqon (al Quran)

Malam ke-5:
Allah memberi pahala kepadanya seperti pahala orang yang shalat di Masjid Alharam (masjidil haram) di Makkah,masjid Nabawi di Madinah dan masjid Al Aqsha di Palestina.

Malam ke-6:
Allah akan memberi pahala seperti pahala orang yang tawaf di-baitul mamur, dan batu-batu serta tanah liat memohonkan ampun untuknya. (subhanallah sungguh luar biasa, batu dan tanah yang kita injak selama ini,ternyata bisa memintakan ampunan kepada Allah untuk kita).

Malam ke-7:
Seakan-akan dia berjumpa nabi Musa a.s kemudian menolongnya dari Kerajaan Firaun dan Hamman.

Malam ke-8:
Allah memberikan kepadanya, apa yang pernah Allah berikan kepada Nabi Ibrahim a.s

Malam ke-9:
Dia menjadi seperti seorang hamba Allah yang beribadah kepadanya seperti ibadahnya seorang nabi.

Malam ke-10:
Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Malam ke-11:
Maka ia akan meninggal dunia dalam keadaan seperti bayi yang baru lahir (meninggal dengan tanpa membawa dosa /husnul khotimah)

Malam ke-12:
Pada Hari Kiamat, Anda akan bangkit dengan muka cemerlang seperti bulan.

Malam ke-13:
Pada Hari kiamat, Anda akan bebas dari ketakutan yang membuat manusia sedih.

Malam ke-14:
Para malaikat memberi kesaksian shalat tarawih anda, dan Allah tidak menghisab anda lagi.

Malam ke-15:
Anda akan menerima shalawat dari para malaikat, termasuk malaikat penjaga Arsy dan Kursi.

Malam ke-16:
Anda akan mendapat tulisan “Selamat” dari Allah, anda bebas dari surga, dan lepas dari neraka.

Malam ke-17:
Allah akan memberi pahala kepada anda sesuai pahala para nabi.

Malam ke-18:
Malaikat akan memohon kepada Allah agar anda selalu mendapat restu.

Malam ke-19:
Allah akan mengangkat derajat anda ke Firdaus (surga yang tinggi)

Malam ke-20:
Diberikan pahala kepada anda sesuai pahala para syuhada dan shalihin.

Malam ke-21:
Allah akan membuatkan sebuah bangunan dari cahaya untuk anda disurga.

Malam ke-22:
Anda akan merasa aman dan bahagia pada hari kiamat, karena Anda terhindar dari rasa takut yang amat sangat.

Malam ke-23:
Allah akan membuat sebuah kota untuk Anda di dalam surga.

Malam ke-24:
Allah akan mengabulkan 24 permohonan Anda selagi Anda masih hidup di dunia.

Malam ke-25:
Anda akan bebas dari siksa kubur.

Malam ke-26:
Allah akan derajat amal kebaikan Anda sebagaimana derajat amal kebaikan Anda selama 40 tahun.

Malam ke-27:
Anda akan secepat kilat bila melewati Siratalmustakim nanti.

Malam ke-28:
Anda akan dinaikkan 1.000 kali oleh Allah di dalam surga kelak.

Malam ke-29:
Allah akan memberi pahala kepada Anda seperti Anda menjalani ibadah haji 1.000 kali yang diterima Allah.

Malam ke-30:
Allah menyuruh kepada Anda untuk memakan semua buah di surga, minum air kausar, mandi air salsabila (air surga), karena Allah Tuhan Anda, dan Anda hamba Allah yang setia.

Baca selengkapnya »
9.02.2009 0 komentar

Gaya Hidup

Tentunya teman-teman masih akrab dengan tag sebuah iklan kartu ponsel yang bunyinya gini: 'hari gini masih ndak punya handphone ... bla bla bla bla'. Ndak tahu gimana tafsiran teman-teman dengan kalimat tersebut, tapi aku kok menafsirkannya sebagai sebuah pernyataan yang ingin mengatakan bahwa kalau jaman modern gini masih belum ikut-ikutan punya ponsel, itu bukan orang gaul namanya alias ndak asyik deh alias ketinggalan gaya hidupnya. Terlalu naif tidak tafsiranku hehe ...

Tapi dari sana berkembang pula statemen lain yang serupa. Misalnya: "hari gini masih pake bla bla bla ... ganti dong dengan yang bla bla bla". Atau: "hari gini masih makan di bla bla bla ... sekali-kali coba dong makan di bla bla bla'. Atau lagi: "hari gini masih belum nyoba bla bla bla ... yang gaul dong.." Hayo ... ngaku deh, entah secara sengaja atau tidak, pasti teman-teman pernah mengatakan kayak gitu ke orang lain juga hehehe ...

Sebenarnya apa saja sih yang bisa di-gaya hidup-kan? Iseng-iseng kita data yuk, sekalian melihat diri kita apakah termasuk korban gaya hidup atau tidak hehehe ...


Aku mulai dari anggota tubuh kita yang paling atas, yaitu rambut. Apakah beda kalau kita potong rambut di salon ternama yang bermarkas di mal dengan cukur di barber shop yang ada di pinggir jalan? Hmm ... lebih gaya mana sih? Bagi yang bergaya hidup pasti menjawab: tentu saja berbeda dong. Kalau di salon khan lebih asyik, pelayannya cakep-cakep, tempat duduknya lebih empuk, ada majalah, ada AC, dan yang penting lebih BERGENGSI. *kalo dipikir-pikir benar juga yah, jadi tidak rugi meski harus membayar sekitar 10 kali lipat dibanding cukur di barber shop pinggir jalan*

Hal yang sama berlaku juga dengan perlengkapan tubuh kita yang lain seperti baju yang bermerek, jam tangan yang harganya sampai puluhan juta, tas atau dompet yang konon dipake artis beserta isinya yang penuh dengan kartu-kartu mengkilap, under wear yang bentuknya cuma sehelai kain tapi harganya luar biasa, pernak-pernik berkilauan yang menghiasi leher, telinga, tangan, dan jari kita, hingga gaya anyar yang merelakan bagian tubuh tertentu mereka ditusuk-tusuk jarum alias tindik-tindikan. Hebat yah ...

Hal lain yang sering aku jadikan contoh dalam mengukur gaya hidup seseorang adalah jenis HP. Tidak percaya? Coba lihat sejenak jenis HP teman-teman. Hayooo jujur ... pasti mayoritas memiliki HP keluaran terbaru dengan fitur bermacam-macam, dari kamera yang sudah MegaPixel, Video, hingga yang terbaru 3G. Padahal kalo mau jujur kita jarang sekali memanfaatkan fitur-fitur tersebut alias fungsi yang dimanfaatkan hanyalah untuk Telp, SMS, ama Foto. Mungkin yang lebih canggih sudah memakainya untuk merekam video atau menjadwal skedul harian.

Kalo misalnya hanya fitur-fitur sederhana itu saja yang digunakan, lantas kenapa kita harus berkorban ekstra untuk membeli HP keluaran terbaru? Alasannya sih sederhana saja: biar dibilang ikut trend atau bergaya hidup tinggi. Ndak seru khan kalo misalnya HP kita masih tipe gede yang konon kalo timpuk anjing bisa mati, yang suaranya masih monophonic, trus tiba-tiba bunyi di kerumunan orang-orang yang HP-nya sudah canggih abiz, gimana respon teman-teman?

Apalagi yah hal lainnya? Jenis dan merek kendaraan? Atau lokasi mangkal dengan sohib-sohib? Atau merek kacamata gaya kita? Ataukah parfum yang kita semprotkan di tubuh kita? Mungkinkah faktor makanan atau minuman yang masuk ke tubuh kita? Hingga termasukkah kosa kata gaul yang kita pake? Kemanakah kita harus bertanya dan mendapatkan jawabannya? Mengutip Kang Ebiet G Ade, marilah kita bertanya pada rumput yang bergoyang ...

* * *

Gaya hidup. Entah siapa yang mulai mempopulerkan kata ini, atau pun ikut mendukung bahwa inilah jaman yang harus bergaya hidup. Kalau seseorang ikut trend terbaru yang berkembang saat ini, dia layak dikatakan orang yang bergaya hidup tinggi. Sebaliknya, jika tidak mau ikut-ikutan, akan dicap bergaya hidup rendah. Sebuah tudingan yang menurutku terlalu menghakimi, hingga muncullah gap atau jarak antara dua kelompok tersebut.

Alhasil, gaya hidup sering dijadikan patokan atau sebuah standar penempatan seseorang dalam sebuah kelompok atau pergaulan. Sebuah kondisi yang membuat orang-orang, terutama anak muda yang masih mencari jati diri dan pertemanan, terjebak dalam dunia konsumerisme. Melihat temannya pake sesuatu yang terbaru, dengan alasan supaya tidak minder dan diterima, segala cara ditempuh supaya dia juga memilikinya.

Tidak heran pada akhirnya banyak orang yang terjebak dalam dunia keglamoran dengan aneka konsekuensi yang membuatnya pusing tujuh keliling akibat korban gaya hidup: masalah keuangan. Entah dari sekadar menilep uang sekolah atau kuliah, mengkoleksi sejumlah kartu kredit yang hampir semuanya over limit, menggantungkan diri pada lintah darat, hingga melakukan korupsi atau penipuan-penipuan keuangan yang akhirnya akan menghancurkan masa depannya sendiri.

Tragis yah. Sedih kalo mendengar ada teman atau rekan atau saudara kita yang jatuh dalam hal-hal gituan. Tapi apa yang mau dikatakan lagi, itulah realita dan harga yang harus dibayar demi sebuah kata: GAYA HIDUP. So ... be wise deh ;)

Baca selengkapnya »
9.01.2009 0 komentar

GUSTI ALLAH TIDAK NDESO


Pada hari ini saya tampilkan tulisan dari Cak Nun, kyai mbeling yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang cerdas, tajam dan tanpa basa basi, selamat membaca. Semoga amal ibadah kita tidak sia-sia.

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah tidak "ndeso" (kampungan)

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun :

"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"


Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.


"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."


Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:

Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara.

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"


Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.


Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak- injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.


Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.


Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.


Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama.

Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.


Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial.


Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.


Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas).


Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.


Ekstrinsik Vs Intrinsik


Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.

Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka."

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.


Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial.


Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain.

Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport.

Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik.


Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya.

Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh kedalam.

Baca selengkapnya »
8.31.2009 0 komentar

Anda Bisa Jika Anda Berpikir Bisa!

Seekor gajah yang diikat kakinya sejak kecil dengan seutas rantai sepanjang 4 meter, ketika dia dewasa dia tidak akan melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter walaupun rantainya sudah diganti dengan seutas benang. Ini bukan cerita, tapi kisah nyata.

Kita sebagai manusia yang berakal budi ternyata juga mengalami trauma yang sama. Teman saya sejak kecil tidak berani mengendarai sepeda, ketika kami remaja dan suka keliling kota dengan sepeda motor, dia selalu dibonceng teman lainnya, setelah kami dewasa beberapa teman mulai memakai mobil untuk aktivitasnya, tapi teman saya itu tetap tidak berani mengendarai apapun.

Ada staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, tidak pernah bisa meraih promosi jabatan karena disana adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika saya tawarkan jabatan di bagian marketing, dia tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang marketing.


Ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, prestasinya bagus, disegani teman temannya, bahkan jadi tempat bertanya atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia menolak karena dia takut dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi distrik manager yang sarat dengan tugas tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan adminitrasi.

Coba anda lihat diri anda sendiri, adakah seutas benang yang memhambat diri anda saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung anda.

Anda pasti bisa kalau anda berpikir anda bisa, anda akan gagal kalau anda selalu berpikir anda akan gagal. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan karena selama ini anda menutup mata anda, telinga anda, pikiran anda, diri anda, hidup anda, maka peluang itu menjadi bukan peluang, lewat begitu saja.

Mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau anda masih gamang, lalu berlari cepat setelah anda lebih yakin lagi. Jangan sia siakan setiap peluang untuk maju, untuk berhasil, demi diri anda sendiri

SUKSES UNTUK KITA SEMUA…!!!

Baca selengkapnya »
8.30.2009 0 komentar

Menghitung Hari

Dalam kehidupan kita ada 3 macam hari yaitu :

Hari Kemarin (PAST)

Kita tidak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.

Kita tidak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.

Kita tidak mungkin menghapus kesalahan; dan mengulangi kebahagiaan yang dirasakan kemarin.

Biarkan hari kemarin lewat…….


Hari Esok (FUTURE)

Hingga mentari esok hari terbit,

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk esok hari.

Kita tidak tahu apakah akan sedih atau ceria di esok hari.

Esok hari belum akan tiba……


Hari Ini (PRESENT)

Pintu masa lalu telah tertutup.

Pintu masa depan belum tiba.

Pusatkan saja semua potensi yg kita miliki untuk hari ini.

Kita dapat mengerjakan lebih banyak hal hari ini bila mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskan ketakutan akan esok hari.

Hiduplah utk hari ini karena masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran.

Hiduplah apa adanya karena yang ada hanyalah hari ini.

Jadi jangan biarkan masa lalu mengekang atau masa depan membuat bingung, lakukan yang terbaik utk HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!

Baca selengkapnya »
0 komentar

Selingkuh… Salahkah????


Orang yang berselingkuh itu selalu merasa salaaaah aja. Bukaaan… bukan kamu… itu mah cuma ngerasa aja…. Artinya sehebat-hebat dia menyembunyikannya, ketika berada di hadapan pasangan yang sebenarnya, selalu ada rasa risih, ada bingung, ada ..heeehh gitu.

Selingkuh itu adalah sebuah bibit, sebuah benih, dari kehancuran kehidupan rumah tangga. Alasannya macem-macem, kenapa selingkuh itu ada.
Apakah ini merupakan penyakit hati??
Ini bagian dari sekian banyak penyakit hati.
Kenapa kok jaman sekarang ini ada kesan seakan-akan selingkuh itu dihalalkan?
Halal itu lahir karena adanya pembenaran.
Dari mana pembenaran itu ada?
Dari setiap kejadian masalah-masalah pendukung dalam kehidupan rumah tangga.


Sesuatu yang dipendam, sesuatu yang ngga dibuka, sesuatu yang ngga diungkapin, Insya Allah semua orang ngerasain itu, semua orang tanpa terkecuali, akan membuat kondisi tidak nyaman.
Akhirnya ketika dia dekat dengan seseorang, “Kamu kenapa sih?”
“Ngga kok.”
“Kamu kok gitu banget, cerita doong”
Awalnya dari situ, cerita dia. “Gua pusing banget.”
“Kenapa?”
“Yang di rumah ga mau ngerti.”
Laaah… kan.. Ini merupakan bibit, yang diajak ngomong cuma mencoba ngerti. Ternyata coba ngerti itu juga bisa menjadi racun. Bukan Racunnya Cangcuter. Akhirnya menjadi kebiasaan.
“Kok ngobrol sama kamu comfort yah, kok merasa nyaman ya… kok merasa terlindungi ya. ”

Naaah ini bisa dianggap sebagai pembenaran. Karena mungkin dia tidak bisa mendapat kenyamanan dari yang seharusnya memberi kenyamanan. Ini yang sebenarnya perlu dijaga bener-bener. Sementara komitmen dari sebuah pernikahan sudah jelas, silahkan simak QS Ar Ruum ayat 21.

Dan dari tanda-tanda kebesaran Allah, Allah telah menciptakan buat kita, pasangan. Selalu berpasangan, laki-laki perempuan, perempuan laki-laki. Ngga mungkin laki-laki dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan. Itu lesbiola namanya yah. Lebih baik les piano aja, atau les gitar. Oke .. kita ngga akan bahas itu.

Allah menciptakan pasangan buat kita, agar kita merasa tenteram, merasa nyaman. Seseorang klik itu kan karena ada kenyamanan, ada ketentraman, nyambung segala hal. Ketika diajak ngomong, “Telpon yang anda hubungi sedang selingkuh”. Ngga bakalan klik.

Kalau dulu waktu masih bujangan pulang sembarangan, ketika sudah beristri dia tahu, jam sepuluh musti pulang, ada yang nunggu. Selalu teratur. Ada keteraturan dari kenyamanan itu. Akhirnya dari kenyamanan itu muncul kasih dan sayang.

Tapi lagi-lagi yang namanya kehidupan rumah tangga itu ga luput dari yang namanya ujian. Dan tidak mungkin tidak ada ujian. Lalu apa bisa dikatakan kalau selingkuh merupakan akar dari suatu poligami? Oooh… poligami dan selingkuh adalah sesuatu yang jauh berbeda. Selingkuh ngga didasari pernikahan. Just having fun. Ready for use.

Tapi kan bisa mengarah ke sana, karena masing-masing saling menginginkan, saling membutuhkan? Justru itu akan lebih baik, daripada hidup dalam perselingkuhan. Karena yang namanya orang dewasa selingkuh, ga bakalan jauh dari yang namanya ML. Dan kalau itu dilakukan dengan orang yang bukan pasangan yang sebenarnya, sangat diharamkan oleh Allah.

Baca selengkapnya »
0 komentar

BERLINDUNG DARI FITNAH

Memiliki keluarga yang didalamnya penuh dengan sakinah mawadah dan penuh rahmah adalah impian setiap insan muslim. Namun, sepenuhnya kita menyadari bahwa keluarga, anak-anak juga harta-harta yang kita miliki bisa menjadi fitnah dan ujian hidup.

Oleh karenanya, seorang hamba hendaknya tidak putus permohonannya setiap waktu pada Allah untuk senantiasa menjadikan keluarga, istri, suami ataupun anak-anak cucu keturunannya sebagai qurrata a’yun, penyejuk mata dan hati serta pembawa kebaikan dan manfaat.

HANYA ALLAH TEMPAT BERLINDUNG
Jika seseorang melihat berbagai macam fitnah seperti kehidupan dunia beserta iming-iming dan kesenangan di dalamnya yang berbungkus nafsu dan syahwat, fitnah ujub serta besar kepala, fitnah kematian yang siap menanti, penghimpunan seluruh manusia di Padang Mahsyar yang panas tanpa perlindungan, fitnah kekacauan, pembantaian juga perang, juga huru-hara di akhirat serta beraneka ragam fitnah lainnya, maka sesungguhnya, bagi orang-orang yang berpikir tentu akan tergerak hatinya untuk menyelamatkan diri dari semua itu dan terdorong untuk senantiasa berlindung kepada Allah l, meminta keselamatan dan terbebas dari segala keburukan dan kejahatannya.


Berlindung kepada Allah, terlebih di saat-saat ini, ketika fitnah banyak tersebar dan merajalela, merupakan cara tepat. Itu suatu keharusan dan merupakan hal yang amat penting. Karena dengan begitu kita bisa terbebas dari kejahatan fitnah-fitnah itu.

Misalnya saja fitnah kesenangan dunia beserta isinya, yang begitu memanjakan nafsu dan syahwat kita, maka kita wajib selalu berlindung kepada Allah dari keburukan dan perangkapnya. Adalah fitnah dunia yang sangat besar atas seorang laki-laki berupa fitnah wanita. Sangatlah dimengerti saat Nabi Yusuf p begitu khawatir terhadap fitnah wanita hingga beliau berdoa pada Allah seperti dalam surat Yusuf 33.
“Dan jika tidak engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka), dan tentulah aku termasuk orang-orang yang berdoa.”

Nabi Muhammad n juga memohon perlindungan dari banyaknya fitnah dunia, salah satunya adalah nabi meminta perlindungan dari buruknya fitnah kekayaan dan harta benda. “...Dan (aku berlindung) dari buruknya fitnah kekayaan.” (Riwayat Bukhari)
Jika para nabi dan utusan Allah yang tak diragukan lagi kuatnya keimanan mereka, selalu memohon perlindungan pada Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Semoga kita tak pernah kikir dan pelit untuk senantiasa memohon perlindungan-Nya.

FITNAH DALAM KELUARGA
Telah disinggung di awal tulisan bahwa keluarga dan anak-anak juga merupakan fitnah dunia sebagaimana firman Allah l dalam firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)

Benarlah apa yang Allah sitir dalam firman-Nya tersebut, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui istri, atau suami dan anak-anak menjadi ujian. Banyak kita dengar istri-istri yang tidak taat juga anak durhaka, ataupun harta yang menjadi sengketa dan malapetaka.

FITNAH ISTRI
Bukan lagi hal aneh dewasa ini kita saksikan istri yang tidak taat dan istri-istri yang keluar rumah sendirian tanpa izin suami, tanpa ada kepentingan yang mendesak, hingga menimbulkan pandangan orang-orang.
“Wanita itu adalah aurat, maka apabila dia keluar, dia akan diincar (diperindah) oleh setan.” (Riwayat At-Tirmidzi)
“Tidak boleh seorang wanita bepergian kecuali bersama dengan mahramnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Istri keluar tanpa izin suami merupakan langkah awal dari rentetan fitnah selanjutnya. Biasanya istri akan mulai menyepelekan hal-hal penting lain yang menyangkut dengannya. Misalnya menjadi tidak perhatian pada anak-anak, tidak lagi perhatian dengan tugasnya dalam rumah tangga, juga tidak perhatian terhadap hak-hak suami. Bahkan bisa jadi rentetan ketidaktaatannya kepada suami akan semakin panjang, berani menolak suami dengan kasar, mengangkat suara (berteriak) di hadapan suami serta mengingkari kebaikan suami.

Tidakkah istri-istri yang berbuat demikian ingat bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban?
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, suami adalah pemimpin pada keluarganya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Sikap boros dan israf (berlebihan) istri dalam menjaga dan membelanjakan harta suami juga merupakan ujian, dan masih banyak ujian lain yang ditimbulkan oleh seorang istri.

FITNAH ANAK
Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah. Namun adakalanya amanah itu justru menjadi cobaan bagi sebagian orang. Seperti yang dialami Nabi Nuh, buah hatinya durhaka dan tak pernah mendengar nasihatnya. Dan kisah Nabi Nuh banyak terulang di zaman ini. Dari anak yang melawan orang tua, membangkang bahkan membunuh orangtuanya sendiri karena keinginannya tidak dipenuhi. Ironisnya pergaulan dan lingkungan yang carut marut makin “menggemukkan” fitnah ini.

Banyak dari orangtua merasakan ujian hidup atas anak mereka. Mereka berusaha sabar atas keburukan sikap anak-anak, seraya berharap perubahan, namun kadang kenyataan berkata lain. Terkadang justru kedurhakaan anak kian menjadi. Mereka disibukkan dengan kesenangan dunia dan foya-foya melakukan hal sia-sia, hingga lupa diri. Dunia telah menipunya.
“Dan dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan dan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Karenanya nabi mengajarkan sebuah doa agar terhindar dari fitnah dan ujian hidup.
“Dan aku berlindung kepada-Mu dari (keburukan) fitnah hidup.”

FITNAH HARTA
Tak ubahnya fitnah istri dan anak, harta pun bisa menghancurkan jika tidak diiringi sikap amanah pemiliknya. Harta kekayaan yang seharusnya bisa mendatangkan kebaikan malah sebaliknya. Membuat pemiliknya menjadi tamak, loba dan kikir. Pelit dalam menyedekahkan karena takut berkurang.

Tapi anehnya sangat boros dan royal jika membelanjakan untuk hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Semisal untuk hura-hura dan berlebihan dalam soal makan dan gaya hidup. Harta juga bisa menjadi sengketa antar ahli waris karena saling ingin menguasai. Maka bisa dipastikan hubungan antar anggota keluarga akan hancur, kedengkian dan permusuhan tumbuh, bahkan bisa jadi pertumpahan darah.

FITNAH TETANGGA
Sebagai makhluk sosial, di tempat keluarga kita tinggal tentunya kita hidup bertetangga. Namun ada saatnya kita temukan tetangga yang belum tentu baik perilakunya. Meski kita tak memusuhinya, kadang ada saja sikap mereka yang tak menyenangkan. Semisal senang menggunjing, mengadu domba dan mencampuri urusan orang lain. Kondisi yang tidak kondusif ini, juga bisa memberikan rasa tak nyaman. Bisa pula kita terpengaruh dengan perilakunya, karenanya sebisa mungkin kita harus menjaga jarak dengan mereka.

Pada akhirnya, mengingat banyak fitnah yang bisa saja terjadi dalam keluarga kita, tak hanya melulu tugas suami untuk menjaga dan menasihati anak, tapi menjaga keluarga dari setiap keburukan adalah tugas kita semua, dengan jalan saling menasihati dan mengingatkan. Semoga firman Allah dalam Al-Quran surat At-Tahrim ayat 6 (“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”) bisa menjadi motivasi bagi kita untuk selalu menjaga keluarga kita, serta semoga Allah menjaga kita dari kejahatan fitnah besar dan kecil, baik saat hidup dan sesudah kita mati. Amiin.

Baca selengkapnya »
0 komentar

Meraih Pahala dari Fitnah Harta (istri) dan Anak

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28)

Terdapat dua ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebut harta dan anak sebagai fitnah, yaitu surah Al-Anfal ayat 28 dan surah At-Taghabun ayat 15, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Perbedaannya: pada surah Al-Anfal, Allah menggunakan redaksi pemberitahuan “ketahuilah”, sedangkan pada surah At-Taghabun menggunakan redaksi penegasan “sesungguhnya”. Namun ungkapan yang mengakhiri kedua ayat tersebut sama, yaitu “di sisi Allah-lah pahala yang besar”. Sehingga bisa dipahami bahwa fitnah harta dan anak bisa menjerumuskan ke dalam kemaksiatan, namun di sisi lain justru bisa menjadi peluang meraih pahala yang besar dari Allah swt. Dan makna yang kedua itulah yang dikehendaki oleh Allah, sehingga Allah mengingatkannya di akhir ayat yang berbicara tentang fitnah anak dan harta “dan di sisi Allah-lah pahala yang besar”.


Fitnah dalam kedua ayat ini bukan dalam arti Bahasa Indonesia, yaitu setiap perkataan yang bermaksud menjelekkan orang, seperti menodai nama baik atau merugikan kehormatannya. Tetapi fitnah yang dimaksud dalam konteks harta dan anak seperti yang dikemukakan oleh Asy-Syaukani adalah bahwa keduanya dapat menjadi sebab seseorang terjerumus dalam banyak dosa dan kemaksiatan, demikian juga dapat menjadi sebab mendapatkan pahala yang besar. Inilah yang dimaksud dengan ujian yang Allah uji pada harta dan anak seseorang. Fitnah di sini juga dalam arti bisa menyibukkan atau memalingkan dan menjadi penghalang seseorang dari mengingat dan mengerjakan amal taat kepada Allah, seperti yang digambarkan oleh Allah tentang orang-orang munafik sehingga Dia menghindarkan orang-orang beriman dari kecenderungan ini dalam firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Rasulullah saw juga menyebut kedua kemungkinan ini dalam hadits Aisyah ra ketika beliau memeluk seorang bayi, ”Sungguh mereka (anak-anak) dapat menjadikan seseorang kikir dan pengecut, dan mereka juga adalah termasuk dari haruman Allah swt”.

Fitnah anak dalam arti bisa mengganggu dan menghentikan aktivitas seseorang pernah dirasakan juga oleh Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Buraidah bahwa ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbahnya kepada kami, tiba-tiba lewatlah kedua cucunya Hasan dan Husein mengenakan baju merah sambil berlari dan saling kejar mengejar. Begitu melihat kedua cucunya, Rasulullah kontan turun dari mimbar dan mengangkat keduanya seraya mengatakan, ”Maha Benar Allah dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya harta dan anak-anak kamu adalah fitnah”. Aku tidak sabar melihat keduanya sampai aku menghentikan ceramahku dan mengangkat keduanya”. Dalam konteks ini, Ibnu Mas’ud mengajarkan satu doa yang tepat tentang harta dan anak. Beliau mengungkapkan, ”Janganlah kalian berdoa, dengan doa ini, ”Ya Allah, lindungilah kami dari fitnah”. Karena setiap kalian ketika pulang ke rumah akan mendapati harta, anak dan keluarganya bisa mengandungi fitnah, tetapi katakanlah, ”ya Allah aku berlindung kepada engkau dari fitnah yang menyesatkan”.

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16). Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun: 14)

Sedangkan tentang fitnah harta dan anak dalam surah Al-Anfal, Sayyid Quthb menyebutkan korelasinya dengan tema amanah ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (Al-Anfal: 27), bahwa harta dan anak merupakan objek ujian dan cobaan Allah swt yang dapat saja menghalang seseorang menunaikan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan baik. Padahal kehidupan yang mulia adalah kehidupan yang menuntut pengorbanan dan menuntut seseorang agar mampu menunaikan segala amanah kehidupan yang diembannya. Maka melalui ayat ini Allah swt ingin memberi peringatan kepada semua khalifah-Nya agar fitnah harta dan anak tidak melemahkannya dalam mengemban amanah kehidupan dan perjuangan agar meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Dan inilah titik lemah manusia di depan harta dan anak-anaknya. Sehingga peringatan Allah akan besarnya fitnah harta dan anak diiringi dengan kabar gembira akan pahala dan keutamaan yang akan diraih melalui sarana harta dan anak.

Lebih jauh, korelasi ayat di atas dapat ditemukan dalam beberapa ayat yang lain. Al-Qurthubi misalnya, menemukan korelasinya dengan surah Al-Kahfi: 46 yang bermaksud, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”, bahwa harta kekayaan dan anak wajar menjadi perhiasan dunia yang menetramkan pemiliknya karena pada harta ada keindahan dan manfaat, sedangkan pada anak ada kekuatan dan dukungan. Namun demikian kedudukan keduanya sebagai perhiasan dunia hanyalah bersifat sementara dan bisa menggiurkan serta menjerumuskan. Maka sangat tepat jika ayat “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (At-Taghabun: 15) dan ayat “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”.(Al-Munafiqun: 9) menjadi pengingat jika kemudian terjadi harta dan anak justru menjauhkan pemiliknya dari Allah swt.

Berbeda dengan At-Thabari, ia memahami korelasi kontradiktif ayat ini dengan surah Ali Imran ayat 38, “Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Menurut Ath-Thabari, secara tekstual ayat ini bisa dipahami bertentangan dengan ayat yang memberi peringatan akan kemungkinan bahaya dan fitnah yang ditimbulkan dari harta dan anak. Padahal nabi Zakaria sendiri berdoa agar dikaruniakan keturunan yang banyak. Maka pemahaman yang cenderung kontradiktif ini diluruskan sendiri oleh Ath-Thabari dengan mengemukakan bahwa anak yang di pohon oleh Zakaria adalah anak keturunan yang shaleh yang bisa memberi manfaat di dunia dan akhirat. Sedangkan yang dikhawatirkan adalah kriteria harta dan anak yang justru melalaikan dari mengingat Allah swt seperti yang Allah tegaskan dalam salah satu firman-Nya, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Al-Munafiqun: 9). Dalam konteks ini, Nabi Muhammad sendiri pernah mendoakan harta dan anak yang banyak kepada sahabat Anas bin Malik ra, “Ya Allah perbanyaklah untuknya harta dan anak, dan berkahilah setiap apa yang Engkau anugerahkan kepadanya”.

Demikian keseimbangan yang diajarkan oleh Allah swt dalam menyikapi fitnah harta dan anak yang menduduki posisi tertinggi dari titik lemah manusia. Harta dan anak memiliki potensi yang sama dalam menghantarkan kepada kebaikan atau menjerumuskan seseorang kepada dosa dan kemaksiatan. Sudah sepantasnya peringatan Allah dalam konteks fitnah harta dan anak senantiasa yang sering kita ingat karena hanya peringatan Allah yang mencerminkan kasih sayang-Nya yang layak untuk diingat, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim:6).

Baca selengkapnya »
0 komentar

Rahasia Hati Laki2 dan Wanita..


Sejarah banyak menceritakan kita tentang hal ini..ada Yusuf dan zulaikha, Muhammad dan Khadijah, Ali dan Fatimah, Laila dan Majnun, Romeo dan Juliet, Rama dan Sinta dll..yang jumlahnya banyak sekali..

Apa yang sama jika disebutkan nama2 ini berikut pasangannya??..betul sekali..tentang menyikapi 'hubungan' laki2 dan perempuan..tentang 'cinta'..tentang anugrah yang hanya terlengkapi jika ia berpasangan..meskipun diantara tokoh2 diatas, penyikapan yang ditunjukkan mungkin sangat berbeda..
tetapi banyak manusia2 dahulu dan saat ini terilhami oleh cerita2 diatas..dengan bermimpi bahwa mereka adalah pasangan2 diatas..berharap ada banyak kesamaan sikap dengan cerita2 diatas..dengan segala permasalahan yang terjadi didalam 'hubungan' mereka tersebut..


Jaman dahulu..jaman sebelum Islam menerangi tanah arab, ada kebiasaan diantara wanita2 arab yang ingin bersuami,dimana dia(si perempuan)'berhubungan' dengan sebanyak lelaki yang ia inginkan(dibawah 10 org).. ketika si perempuan hamil..dia berhak memilih salah satu diantara lelaki yang telah berhubungan dengannya itu untuk menjadi suaminya..ada lagi kondisi dimana si perempuan memasang bendera(tanda) tertentu didepan rumahnya..yang berarti lelaki manapun boleh 'berhubungan' dengan si perempuan tadi, setelah perempuan itu hamil maka perempuan itu akan menikahi seorang lelaki dimana sebelumnya pihak perempuan memanggil tukang ramal untuk meramal anak siapakah yang ada didalam kandung si perempuan itu..jawaban peramal ini mau tidak mau harus dilaksanakan dan diterima..ditambah lagi dengan bentuk 'hubungan' yang seperti kita kenal saat ini, yakni berkenalan, kirim dan berbalas surat, jalan2 ke tempat2 yang ramai dan sepi, bermesraan(baca: zina mata, tangan, kaki, mulut dll), kemudian menikah..dan tidak sedikit yang didahului dengan perzinahan sebenarnya, kemudian baru menikah..dan jenis 'hubungan' terakhir adalah..dimana seorang lelaki yang ingin menikahi seorang wanita mendatangi wali si wanita tersebut untuk meminta izin menikahi wanita yg dimaksud..dan setelah dipenuhi mahar yang telah ditentukan, dilaksanakanlah pernikahan dengan syarat dan rukun tertentu..bentuk 'hubungan' inilah yang kemudian dibenarkan oleh Islam..

Sekarang ini, 2 model terakhir dari 'hubungan' antara laki2 dan perempuan diatas yang berkembang didunia, sayang.. pilihan kebanyakan kita umat Islam bukan pada pilihan yang terakhir(mendatangi wali perempuan untuk melamar)..tetapi pilihan untuk pacaran...

Baca selengkapnya »
8.28.2009 0 komentar

Pembelajaran Bahasa Inggris di Bangku Sekolah: Apakah Efektif?

Agaknya, tidak berlebihan bila Bahasa Inggris memang amat sangat dibutuhkan dalam abad kontemporer ini. Setiap zaman diatur oleh sebuah sistem episteme tertentu, begitulah kira-kira kalau tidak salah kata Michel Foucault, sang filosof pujaan saya. Pada zaman ibu saya masih single dulu, Bahasa Inggris masih menjadi satu barang antik. Belum bergeser kedudukannya menjadi ibarat sembako bila diibaratkan dengan keadaan sekarang. Tetapi, itu dulu. Sistem masyarakat, seperti budaya, sosial, ekonomi bukan sesuatu yang statis. Pergerakannya memunculkan kebutuhan baru sekaligus perubahan pada sendi-sendi sistem tersebut membentuk pembaruan maupun kritik terhadap sistem lama. Dobrakan globalisasi kini meraja. Penguasaan Bahasa Inggris jadi salah satu kebutuhan primer.

Sayangnya, kebutuhan akan Bahasa Inggris yang amat sangat mendesak ini tidaklah dibarengi dengan sarana dan prasarana yang cukup, khususnya bila kita menilik pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah. Banyaknya jam pelajaran Bahasa Inggris yang diberikan di sekolah (yang nyatanya, memang tidak banyak karena harus berbagi proprosi dengan mata pelajaran lainnya) tidaklah memadai untuk mencukupi kebutuhan penguasaan Bahasa Inggris yang diharapkan. Meskipun pada beberapa sekolah pemberian pelajaran Bahasa Inggris telah diberikan semenjak jenjang TK, perlu dilihat pula apakah sistem pengajarannya bisa mengakomodasi kemampuan anak didiknya. Sebab anak kecil masih membutuhkan banyak waktu bermain dan bersenang-ria dengan sebayanya, jangan sampai materi yang berat merusak kegembiraan masa kecilnya yang kaya akan imajinasi.


Coba bayangkan, kita yang lahir di negara Indonesia tentu dapat menguasai bahasa Indonesia dengan sendirinya, begitu pula dengan saudara-saudara kita di belahan dunia lain. Mengapa demikian? Kita bisa karena terbiasa. Kita lihai karena setiap hari kita bertemu dengan bahasa itu dan menggunakannya secara aktif dalam komunikasi antarindividu. Pengalaman empiris membentuk kemampuan berbahasa—disamping perubahan volume otak manusia yang diusung teori evolusioner dalam menyediakan wadah untuk mencerap, membentuk, dan memaknai bahasa. Bahasa bukanlah sesuatu yang sudah terprogram dalam diri individu seperti chip komputer yang sudah ditanam dalam tubuh individu. Tetapi, didapat melalui media sosialisasi.

Penguasaan Bahasa Inggris akan sangat baik bila dibarengi dengan penggunaan aktif, seperti pepatah ‘bisa karena terbiasa’ tadi. Cara belajarnya pun sebisa mungkin dibuat semenarik mungkin sehingga para siswa tidak jadi bosan yang ujung-ujungnya membuat mereka bertambah malas.

Beberapa tips yang dapat saya berikan untuk belajar Bahasa Inggris yang menyenangkan antara lain:

1. Bergabunglah dalam English Club. Di sini, kamu bisa belajar vocabulary lewat permainan Scrabble, menyampaikan ide mereka lewat debate contest, dan melatih penguasaan grammar lewat writing. Terlebih, mereka juga dapat memperluas lingkaran pertemanan yang ada.

2. Baca, Baca, Baca! Membaca di sini bukan berarti membaca buku pelajaran melulu. Tetapi, bisa membaca buku dongeng, novel pop remaja, atau novel sastra klasik dalam Bahasa Inggris. Membaca suatu karya fiksi akan sangat menyenangkan karena dengan sendirinya, kamu akan hanyut dalam alur ceritanya yang menarik.

3. Nonton dan Dengarkan Musik. Coba iseng-iseng kamu nonton DVD dengan tidak menggunakan teks (subtitle) apapun. Belajarlah untuk menangkap ide ceritanya lewat dialog para tokoh-tokohnya. Selain itu, kamu juga bisa belajar banyak dengan menerjemahkan atau mendengarkan dengan seksama lirik lagu favorit kamu.

4. Layangkanlah Sayapmu! Tentu saja bukan maksud saya untuk menyuruh terbang. Tetapi, cobalah untuk memperluas jaringan persahabatan dengan teman-teman di luar negeri. Misalnya, lewat friendster. Kamu bisa berlatih Bahasa Inggris dengan sendirinya saat berkirim-kiriman email atau message sembari cari teman atau jodoh baru.

Kuncinya adalah satu: practice makes perfect. Kita bisa karena terbiasa. Bila kita hanya diam saja dan berpangku tangan, kapan kita mau bisa? Ah…saya jadi tersindir sendiri saat menulis ini. Soalnya, sudah sejak lama saya mengidam-idamkan perut berkotak enam, alias sixpack. Tetapi berhubung saya malas melatihnya, maka saya hanya mengharapkan mukjizat supaya keinginan saya terkabul. Dan alhasil, kini perut saya one-pack, alias menggembung ke depan.

Baca selengkapnya »
8.27.2009 0 komentar

Mana yang Lebih Dahulu, Menilai Atau Memikirkan,??

Duh, kayaknya ini emang pertanyaan bodoh! Dimana-mana yah berpikir dulu..setelah itu baru dech kita memutuskan ato menilai something.. ya gak,?? Tapi baru-baru ini aku mendapat pengalaman baru, yang mungkin mengingkari semua itu..Dan tentunya itu membuat aku kecewa dan sedih.

Sungguh manusia itu aneh.. aneh banget.. Jangankan nilai yang mereka buat sendiri. Something yang telah ditetapkan Tuhan pun mereka langgar dengan dalih bermacam-macam. Lidah emang tak bertulang.. Aku ambil contoh seperti ini, Tuhan telah berfirman bahwasanya minuman yang memabukkan itu diharamkan. Harusnya mereka patuh..Tapi apa,?? Mereka mulai dech berargument, “Kalo gak sampai mabuk kan berarti gak haram..” Nauzubillahiminzalik.nilai yang telah dijatuhkan Tuhanpun berani mereka ingkari..Apalagi nilai yang dibuat manusia itu sendiri.


Kembali ke pokok permasalahan, mana yang terlebih dulu kita lakukan menilaikah,?? Atau memikirkan,?? Aku yakin semua akan menjawab, “ya berpikir dululah baru kita jatuhkan nilai..!” Pertanyaannya, tapi kok masih ada yah orang yang menilai kemudian baru berpikir tentang penilaiannya itu..??

Oooh sungguh, beribu kali pun orang menjelaskan padaku alasannya tetap takkan membuatku puas. Karena bagiku, telah jelas ada hitam diatas putih. Kenapa harus diingkari,?? Tapi sekali lagi kukatakan, itulah manusia. “”MANUSIA.”

Baca selengkapnya »
8.26.2009 0 komentar

Always Positive Thinking ...

SALAH satu sifat baik itu adalah prasangka baik. Atau lebih kerennya disebut positif thinking,, Think-think,,!!!

Selalu berprasangka baik itu gak ada salahnya. Bahkan berdampak sangat baik bagi mental kita. Coba bayangkan kalo kita selalu berprasangka buruk.. apa-apa pasti curigaan. Takut inilah. Takut itulah. Pokoknya macam-macam. Ujung-ujungnya kan akan bikin kita stres n repot sendiri.. ya nggakk?? Dalam agamapun su’uzon ntu gak baik.. Dosa…


Nah, coba dech kita slalu berpositif thinking.. Duuhhh indah banget rasanya hidup ini.. Bahkan bisa jadi yang berniat mau maling gak jadi maling… yang mau bolos bisa jadi gak jadi bolos.. Why? Karena, Tuhan itu bertindak sesuai prasangka kita. Kalo kita slalu berprasangka baik pada-Nya, niscaya akan baik pula yang kita dapat. Tapi kalo kita ber-su’uzon padanya, maka yang buruklah yang kita dapat..

Percaya dan berprasangka baik kepada orang lain itu memang gak mudah. Dan gak semua orang yang kita prasangkai baik itu benar-benar baik. Lantas, harus gimana donk??

Kita tetap kudu berprasangka baik. Apapun yang terjadi jangan su’uzon. Biarkan Tuhan yang menentukan jalannya.. Tapi waspada itu gak papa n gak dilarang loh…

So, selagi kita mampu untuk tak su’uzon, maka positif thinkinglah..!!! Dengan begitu niscaya, kita gak akan pernah sakit hati. Karena kita yakin bahwa semua berjalan sesuai kemauannya..

Baca selengkapnya »
0 komentar

HIKMAH PUASA DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"

(QS. Ali Imran : 191)


Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :

"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"

(QS. Al Baqarah : 183)

Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :

a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)

Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.

Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Berpuasalah maka kamu akan sehat"

(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)

Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :

"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"

(HR. Ibnu Majah)

Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :

1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.

2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.

3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.

4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.

b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat

Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.

Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :

"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).

Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"

(HR. Ibnu Majah)

Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.

(HR. Bukhari)

Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :

Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :

"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"

(HR. Bukhari)

Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.

Baca selengkapnya »
8.25.2009 0 komentar

Renungan : Puasa Ala ULAT apa ULAR

Allah Yang Maha Sempurna menciptakan segala sesuatunya penuh dengan hikmah dan pelajaran. begitu pula pada dua makhluk ciptaan Nya, yakni Ulat dan Ular.

Belum lama kita lepas dari madrasah ramadhan. selama berada dimadrasah ramadhan ini kita wajib berpuasa. tentunya berpuasa dengan sebenar-benarnya. agar nantinya kita menjadi seorang yang bertaqwa.

Saudaraku, ternyata fenomena puasa tidak hanya dilakukan oleh manusia. Makhluk Allah yang lain juga ada yang berpuasa. mari kita perhatikan ular. pada periode tertentu ia pun berpuasa. Begitu pula ulat, ia berpuasa.


Puasa ular dan ulat ternyata berbeda. Ular berpuasa menjelang ia berganti kulit (mbrungsungi-jawa). Jika periodenya telah sampai, ular akan mencari mangsa. ia makan mangsa-mangsa tersebut sampai cukup. cukup dalam ukuran yang Allah ajarkan kepada si Ular ini. kemudian ia mencari lokasi tertentu untuk berpuasa. berlalu sekian waktu, kemudian kita dapati ular mempunyai "baju" yang baru. ia telah berganti kulit dengan yang kulit yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya.

Kemudian puasanya ulat. ulat dalam fase awal hidupnya masih berbentuk larva. ia mempunyai sifat rakus dan gemar makan. tidak heran bapak tani dan pecinta tanaman sangat waspada kalo-kalo ada larva yang mampir ke tanamannya. periode awalnya ini ia akan terus makan. sampai pada periode tertentu ia berpuasa. kita akan perhatikan ia seakan ular ini bertapa. semisal kita perhatikan lebih detil, ular menjadikan tubuhnya menjadi lebih keras. dan hanya nampak dari luar, sesuatu yang bergerak-gerak bila kita pegang. waktu kemudian berlalu, sang pertapa ini berubah dan mempunyai wujud yang baru. ia telah menjadi kupu-kupu yang sangat indah. tidak lagi ia memakan daun secara rakus. sekarang ia memakan makanan yang baik. ia memakan sari bunga yang manis.

Demikianlah Allah jadikan perumpamaan bagi kita. mari kita bertanya, selama ramadhan kemarin kita berpuasa bak ular ataukah ulat?

Puasanya ular hanya berganti baju saja. lidahnya yang dulu bercabang, pasca berpuasa tetap saja masih bercabang. sifatnya yang liar, tetap saja ia liar. dengan kata lain, lidah kita yang sering maksiat tetap saja maksiat. lidah kita yang hobi ghibah dan fitnah, masih saja demikian. kita sekedar memakai baju baru saja selepas ramadhan ini. naudzubillahi mindzalik.

Ataukah puasa kita seperti puasanya ulat? ia semakin baik. ia bermetamorfosis dari keadaan diri yang berbentuk ulat yang menggelikan menjadi kupu-kupu indah. makananannya pun berbeda, ia memilih makanan yang baik. ibarat manusia, sebelum berpuasa ia jauh dari Allah, ibadah masih bolong-bolong, mau berpuasa sunnah terasa berat, berinfaq terasa sulit, apalagi berjalan ke majelis-majelis ilmu. selepas ramadhan ini mari kita merenung. akankah diri kita sudah semakin baik? kita sudah bukan lagi larva namun sudah menjadi kupu-kupu yang indah nan barokah?

Salah seorang ulama mengatakan "bukanlah orang yang ‘Id orang yang berpakaian baru. tetapi orang yang ‘Id adalah orang yang ketaatannya bertambah". Kiranya renungan ini bisa bermanfaat bagi kita bersama. Jagalah terus ramadhan di hati kita. manfaatkan terus waktu-waktu yang masih Allah karuniakan kepada kita sebesar-besarnya untuk berbuat taat kepadaNya. Sehingga dibulan kemenangan ini kita tetap terus menang. karena pada hakikatnya menurut Imam Ibn Jauzi mempertahankan kemenangan jauh lebih sulit dibandingkan upaya keras kita untuk mencapainya. Wallahu a’lam.

Baca selengkapnya »
8.24.2009 0 komentar