Apakah Cinta itu?

Mudah sekali seseorang mengatakan “aku mencintaimu” atau “daripada kita selalu bertengkar, lebih baik kita putuskan saja cinta kita”. Dan masih banyak ungkapan cinta meluncur dari bibir beragam lapisan masyarakat. Ada yang berkata, aku cinta produk dalam negeri atau ada pula yang bilang kesan pertama begitu menggoda hingga akhirnya aku benar-benar jatuh cinta pada lukisan Mona Lisa karya masterpiece seorang seniman bernama Leonardo da Vinci. Senyum Monalisa adalah senyum sejuta pesona, begitu sulit diterka, apakah senyum cinta atau senyum duka. Karena saking jatuh cintanya, ada seseorang yang berani membayar berapa pun harga lukisan itu.

Cinta begitu aneh dan sulit dipahami. Kalau benar cinta, mengapa menyiksa? Kalau benar cinta, mengapa membunuh? Cinta juga begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lalu apa sebenarnya cinta itu? Kadang kita tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan ketika kita didesak oleh sang kekasih dengan pertanyaan ”Mengapa kamu mencintai aku?” Melalui tulisan singkat ini akan saya coba uraikan pengertian dan makna serta pengaruh “dahsyat” cinta pada berbagai aspek kehidupan.


Pengertian Cinta

Cinta adalah ekspresi jiwa yang didorong oleh suatu keinginan memiliki, menguasai dan atau menikmati (memanfaatkan) atas suatu materi atau objek. Cinta yang baik biasanya bergandeng mesra dengan “kasih”. Tetapi kasih memiliki pengertian yang berbeda. Dalam kasih cenderung kita ingin memberi apa yang kita miliki dan ingin berbagi apa yang kita mampu lakukan kepada suatu objek/orang lain.

Kasih tanpa cinta sangat tidak mungkin. Tetapi cinta tanpa kasih sangat mungkin. Karena unsur cinta lebih banyak untuk pemuasan/kepentingan diri kita, sedangkan unsur kasih lebih banyak untuk pemuasan orang lain. Biasanya kita sering menggabungkan kasih dengan belas, sehingga terbentuklah ungkapan “belas kasih”. Oleh karena itu, kasih lebih banyak memberi atau mengorbankan kepentingan dirinya sendiri demi kebahagiaan orang lain yang dilakukan berdasarkan perasaan belas.

Cinta yang baik juga sering ditemani oleh “sayang”. Kalau sayang pasti karena ada cinta, tetapi kalau cinta belum tentu ada sayang. Sayang merupakan sikap tak ingin menyia-nyiakan sesuatu. Makanya jika kita menyayangi sesuatu benda atau apapun, biasanya kita akan merawat atau memeliharanya dengan penuh perhatian dan kita akan memperlakukannya dengan baik. Mengapa kita mengasihi? karena kita sayang. Kasih dan sayang adalah paduan yang sangat ideal dalam kehidupan, didalam kasih ada sayang, begitu juga dalam sayang ada kasih. Paduan yang erat antara kasih dan sayang akan melahirkan “kemesraan” yaitu meleburnya antara kata-kata dengan perbuatan dalam satu nafas cinta.

Kasih dan sayang hanya mungkin dilakukan oleh seseorang ketika orang tersebut memiliki empati (tenggang rasa, tepo seliro) keikhlasan (ketulusan hati) dan kesabaran. Oleh karena itu jika ada pertanyaan “Mengapa kamu mencintai aku?” maka menurut pendapat saya jawabannya adalah “Karena aku ingin memilikimu, menikmatimu dan menguasaimu apapun adanya dirimu dengan landasan kasih dan sayang. Aku akan menjagamu dengan sepenuh hati karena aku membutuhkanmu dan tak akan kubiarkan dirimu terluka.”

Dorongan cinta diantaranya karena kita ingin memiliki, menguasai dan menikmati. Oleh karena itu jika seseorang sedang jatuh cinta (pada apapun materinya) ekses yang paling menonjol adalah munculnya sikap egoisme, cemburu, merindukan, berkorban (demi pamrih yang dicita-citakan), suka cita, ambisi, berkhayal dan waspada karena takut kehilangan.

Di dalam cinta ada paduan gelora jiwa yang teramat kompleks, karena dia melibatkan seluruh perasaan yang ada dalam jiwa seseorang. Oleh karena itu cinta kadang membuat kita lupa. Lupa akan posisi kita sehingga kita sering berbuat tidak adil gara-gara cinta. Cinta sering menjerumuskan kita dalam kegelapan. Padahal, spirit dari cinta seharusnya demi pencerahan bukan untuk merusak dan membakar, sebab lambang dari cinta adalah air jernih yang mengalir tenang. Namun, air yang jernih ini pun bisa segera berubah warna menjadi keruh dan menggelegak yang siap menyeret kita dalam pusaran arus deras dan menenggelamkannya. Hal ini terutama untuk jenis cinta yang hanya dimotivasi oleh unsur penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu saja.

Cinta yang digerakkan hanya oleh semangat penguasaan dan kenikmatan demi pemuasan nafsu, sangat berbahaya karena bisa membuat hati kita buta atau gelap mata (brutal). Hati yang buta atau mata yang gelap, akan mudah menyeret kita pada perbuatan kalap yaitu tidak bertanggung jawab. Berani berbuat tetapi ketika dituntut tanggungjawawabnya akan mengelak dengan berbagai cara dan alasan. Oleh karena itu jangan mudah jatuh cinta oleh objek apa pun termasuk cinta kepada materi (harta, tahta dan seks). Supaya tidak mudah jatuh cinta diperlukan keceerdasan, kritis, analitis, dan obyektif dengan harus senantiasa dapat mengontrol prilaku diri kita.
Antara Keinginan dan Kebutuhan

Cinta membuat hidup kita senantiasa dikuasai oleh banyak keinginan, baik dorongan keinginan untuk pemuasan jiwa maupun raga. Namun, dari sejumlah keinginan itu sebenarnya banyak yang bukan merupakan kebutuhan. Misalnya, kita sebenarnya tidak butuh atau tidak perlu rumah mewah dengan interior design yang gemerlap, yang kita BUTUHkan hanyalah rumah tempat tinggal yang aman, nyaman dan sehat lingkungan. Tetapi karena kita terlalu dikuasai oleh dorongan kinginan untuk memiliki rumah mewah, maka akhirnya ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkan keinginan.

Hidup kita akhirnya banyak dikendalikan oleh “keinginan demi keinginan”. Kita ingin memiliki seratus pasang giwang berlian dengan berbagai model, padahal yang kita butuhkan sebenarnya hanya tiga pasang bahkan tanpa satu pasang giwang pun sebenarnya tidak apa-apa. Jika kita tidak tahan dengan godaan keinginan, ditempuhlah berbagai cara demi mewujudkannya, misalnya pinjam (hutang) sana-sini, mencuri/korupsi, merampok, menipu dan sebagainya. Padahal, jika kita selalu menuruti keinginan, maka niscaya keinginan itu tidak ada batasnya.

Lain dengan kebutuhan. Kebutuhan hidup itu relatif terbatas. Contohnya, dalam satu hari kita hanya butuh makan tiga kali. Tetapi “keinginan” makan berbagai menu itulah yang sulit kita batasi. Kita sebenarnya hanya memerlukan (membutuhkan) lima stel pakaian, tetapi karena keinginan pada berbagai mode dan merek akhirnya pakaian kita menumpuk sampai tiga almari. Nafsu-nafsu inilah yang akhirnya menyeret dunia dalam berbagai krisis yaitu krisis pangan, krisis energi, kirisis ekonomi dan krisis politik. Angkara murka dan gengsi sering karena dipicu oleh keinginan yang tak terkendali.

Kita merasa selalu tidak puas dengan apa yang telah diperoleh. Satu kinginan telah berhasil diraih, maka seribu keinginan akan menagih untuk dipenuhi. Kapitalisme dan liberalisme adalah “jago” dalam menjerumuskan manusia untuk berlomba-lomba memenuhi “keinginan hidup” bukan kebutuhan hidup. Manusia yang hanya sibuk menuruti keinginan, hidupnya senantiasa diliputi oleh kecemasan (Jawa:kemrungsung), kemunafikan, ambisius, dan egoistis.

Andai saja dalam kehidupan ini semua orang menggunakan prinsip “hidup sesuai dengan kebutuhan” maka tidak akan terjadi kelaparan, kemiskinan, pengangguran, penindasan, peperangan dan kerusakan alam akibat eksploitasi tiada batas. Sesungguhnya, alam yang begitu luas dan subur ini, mampu menghidupi semua makhluk yang tumbuh atau hidup di atasnya.

Lihat saja, betapa maha pengasihnya alam ini, yaitu ketika kita menanam sebutir jagung maka akan keluar beratus-ratus butir jagung, ketika kita menanam satu bulir padi maka kita akan memanen beratus-ratus bulir padi. Ketika kita menanam satu butir biji melon, maka kita bisa memanennya menjadi berpuluh-puluh buah melon. Begitu juga dalam berternak atau budidaya ikan. Bagaimana mungkin kita kekurangan gizi, wong satu ekor ayam bisa bertelur sampai puluhan butir dan bahkan satu ekor ikan lele bisa bertelur sampai ratusan butir. Hampir tidak ada buah, biji-bijian atau hewan peliharaan yang tidak berlipat ganda jumlahnya dibandingkan dengan jumlah yang kita tanam atau kita pelihara. Ini semua membuktikan bahwa alam tidak akan membiarkan penduduknya kelaparan dan miskin.

Alam begitu kasih dan sayang terhadap penduduknya, namun sayangnya manusia sering berlaku buruk terhadapnya. Alam yang sudah begitu baik ini, malah diperkosa dan disakiti dengan berbagai macam pencemaran dan pengrusakan lingkungan demi pemuasan nafsu yang tak pernah habis. Aliran sungai yang sebenarnya merupakan urat nadi kehidupan, malah dijadikan tempat pembuangan segala macam sampah dan limbah pabrik yang berbahaya. Hutan yang sebenarnya mampu berfungsi sebagai lahan ekosistem, digunduli sehingga banyak hewan dan spesies lainnya mati dan air hujan pun langsung mengguyur permukaan tanah yang gundul itu dengan sangat leluasa. Akhirnya terjadi tanah longsor, banjir dan pendangkalan sungai-sungai.

Benci adalah Lawan dari Cinta

Cinta memang telah melahirkan berbagai macam dorongan keinginan. Benci juga melahirkan berbagai macam keinginan yaitu keinginan untuk melenyapkan, keinginan untuk menjatuhkan, keinginan untuk membunuh dan berbagai keinginan yang sifatnya merusak. Lawan dari cinta adalah benci. Lalu apakah yang disebut dengan kebencian atau benci itu? Benci adalah kebalikan dari cinta yaitu ekspresi jiwa yang cenderung untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan atau memusnahkan atas suatu materi.

Karena unsur benci adalah semangat untuk meniadakan, memusuhi, menghancurkan dan memusnahkan pihak lain, maka gejala yang menonjol dari benci adalah amarah, tidak toleran, menyerang, merusak dan perasaan superioritas pada dirinya sendiri yaitu menganggap dirinya yang paling benar dan kuat.

Dalam kebencian selalu saja ada sikap amarah. Padahal seseorang yang sedang marah, selalu mengandaikan orang lain salah atau menentang kehendaknya. Orang yang tidak toleran biasanya egois karena selalu berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri. Orang yang menyerang biasanya karena dia lebih suka jalan pintas, tidak suka musyawarah tidak suka dialog. Orang yang merusak biasanya karena jiwanya kaku dan keras tidak menyukai kebijaksanaan, keindahan dan ketertiban.

Antara benci dan cinta sungguh sangat tipis batasnya. Mengapa? Sebab gejala yang tampak akibat dari cinta juststru sering berakhir dengan malapetaka. Cinta yang seharusnya memelihara justru malah merusak. Cinta yang seharusnya melindungi justru malah menyiksa. Misalnya, cinta orang tua terhadap anaknya yang seharusnya melindungi malah sering berakibat pada penyiksaan. Semua ini karena orang tua mengukur cinta dari dalam dirinya sendiri tanpa disertai sikap kasih dan sayang. Cinta yang tidak dibarengi dengan kasih dan sayang justru bisa berakibat fatal. Karena kita hanya pandai menuntut tanpa mau berkorban, menjadi takut kehilangan dan mudah gelap mata. Jika tidak hati-hati dengan cinta, maka tidak ada bedanya antara benci dan cinta. Sebab, keduanya bisa sama-sama menghancurkan pihak lain maupun dirinya sendiri.

Lambang dari benci adalah kobaran api yang menyala-nyala yang siap untuk membakar dan menghanguskan apapun yang ada dihadapannya termasuk dirinya sendiri. Benci begitu mudah menyilapkan pandangan kita, seolah-olah apa yang ada di hadapan kita semua serba buruk, semua serba negatif. Mengapa hal ini terjadi? Karena kita telah kehilangan kesabaran untuk menentramkan diri. Dengan demikian, sabar adalah kata kunci untuk memerangi kebencian. Dengan kesabaran kita berkesempatan untuk menilai segala sesuatu berdasarkan nurani yang jernih bukan dengan emosional (nafsu amarah).

Semangat dari cinta adalah “menumbuhkan” semua harapan yang indah dan ideal. Sedangkan semangat dari benci adalah “mematikan“ semua yang indah dan ideal. Jadi betapapun kita membenci atau mencintai sesuatu tetaplah kita selipkan perasaan “eling lan waspodo” agar kehidupan ini tidak mudah jatuh dalam pelukan mesra sang teroris.

Ingatlah bahwa teroris itu tidak selalu ngalor-ngidul menenteng bom untuk diledakkan, namun teroris bisa juga suatu gerakan yang sistematis untuk merusak akal budi kita melalui pencucian otak (brain washing) dan bisa juga dengan intimidasi. Terorisme kadang menyelinap jauh kedalam relung hati kita, tanpa kita sadari. Seseorang yang kehadirannya selalu membuat orang lain ketakutan, sebenarnya dalam dirinya telah bersemi bibit-bibit terror.

Semoga kehadiran kita membuat orang lain yang tadinya pesimis menjadi optimis, yang tadinya bodoh menjadi pintar, yang tadinya malas menjadi rajin bekerja, yang tadinya curang menjadi jujur, yang tadinya semau gue menjadi disiplin, yang tadinya sedih menjadi gembira, yang tadinya bekerja seadanya menjadi lebih produktif dan bertanggungjawab, yang tadinya peragu menjadi percaya diri. Pemimpin harus bisa memberi motivasi kepada anak buahnya untuk “bekerjasama mencapai satu tujuan yang telah dirumuskan bersama”.

6.27.2009 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar

Thanx 4 Ur comment! Yah walau masih ngaco gak papa khan daripada apa yang jadi uneg-uneg gak dikeluarin. Moga-moga dari yang ngaco ini bisa jadi bahan untuk sharing ...